Menyibak Aspek Budaya dalam Teknologi
Saat ini masyarakat menghadapi era teknologi dimana kehidupan manusia hampir seluruhnya tergantung pada alat yang memudahkan kinerja mereka. Internet, reactor nuklir, traktor merupakan sebagian kecil dari sekian banyak hasil teknologi di muka bumi yang sudah pasti sering kita dengar. Hasil teknologi membantu mengubah pola komunikasi yang mulanya dibatasi oleh ruang dan waktu menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas. Dengan demikian, pada dasarnya teknologi bersifat baik namun pada aplikasinya dapat dipakai untuk menjalankan tujuan baik atau buruk.
Adanya gagasan yang menyatakan bahwa teknologi bersifat amoral, kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, apakah teknologi imparsial dari nilai-nilai budaya?
Jika melihat dari prinsip kerja dan konstruksi dasar mesinnya, maka muncul respon yang positif. Dalam buku dikatakan bahwa, jika angka kematian sangat tinggi, jika penduduk dunia ketakutan dengan senjata nuklir dan jika banyak hewan dan tumbuhan yang punah karena polusi maka jangan salahkan teknologi tetapi salahkan orang-orang yang menyalahgunakannya. Prinsip kerja teknologi sudah barang tentu valid dan tidak dapat dengan mudah dirubah-rubah, apakah teknologi tersebut berdampak baik atau buruk terhadap lingkungan sekitar tergantung pada bagaimana orang-orang mengaplikasikannya.
Namun, jika melihat dari bagaimana teknologi dipakai dalam kehidupan sehari-hari, status yang dibawa oleh pemakai teknologi tersebut, serta kemampuan pemakai dalam menyuplai kebutuhan teknologi tersebut, maka jelas bahwa teknologi tidak imparsial dari nilai-nilai budaya dan aspek humanisme.
Untuk mampu menjelaskan lebih lanjut dan memahami bahwa teknologi tidak hanya menyangkut teknik dan pengetahuan melainkan juga melibatkan nilai-nilai cultural dan organisasi, maka konsep tentang penerapan teknologi perlu diperjelas dengan menjabarkan definisinya.
Dengan menggunakan diagram, Pacey menjabarkan 3 aspek penerapan teknologi, yaitu:
1. Aspek organisasi, meliputi kegiatan perseorangan, institusi, organisasi. Wujud dari aspek ini berupa suatu kebijakan atau policy yang mengatur pemanfaatan teknologi pada masyarakat dimana kebijakan ini dikeluarkan oleh organisasi yang mengatur masyarakat dalam lingkup lebih luas yaitu pemerintah.
2. Aspek teknis, meliputi aspek internal yang dimiliki oleh teknologi, pengetahuan, keahlian, teknik. Misalnya dari spesifikasi, fitur, perangkat keras maupun lunak, compatibility, inovasi, dll yang dimiliki oleh teknologi tertentu.
3. Aspek budaya, meliputi tujuan, perilaku, tata nilai, norma, etika, kepercayaan yang melekat di masyarakat yang menggunakan teknologi. Aspek terakhir inilah yang paling abstrak dibandingkan dengan dua aspek sebelumnya karena faktor-faktor yang mempengaruhi budaya ini sangat kompleks.
Selama ini, masyarakat menggunakan teknologi dalam konsep yang sangat luas namun dengan makna yang kadang sangat terbatas. Apabila teknologi diterapkan dalam konteks yang terbatas dimana teknologi hanya dianggap sebagai hal yang menyangkut teknis, mekanis dan pengetahuan, maka nilai-nilai budaya dan organisasi akan menjadi factor eksternal dan dikesampingkan. Namun, jika diterapkan dalam konteks yang lebih luas maka teknologi dikatakan imparsial karena memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung pada nilai-nilai budaya, tradisi dan lingkungan. Dari uraian di atas, jelas bahwa nilai-nilai budaya menjadi factor penentu teknologi apa yang akan dipilih serta dampak atau perubahan yang akan dialami oleh budaya tersebut.
Mendefinisikan teknologi yang semata-mata hanya meliputi aspek teknis menimbulkan masalah di masyarakat, mereka cenderung mengabaikan peran organisasi, bahkan mengabaikan peran ide, nilai, dan kepercayaan. Oleh karena itulah, dengan dukungan dari ketiga elemen yaitu organisasi, teknis, budaya kehadiran teknologi sesungguhnya dapat diimplementasikan lebih efektif di masyarakat.
Dengan demikian, dari uraian diatas dapat diambil definisi bahwa penerapan teknologi adalah penerapan sains dan ilmu pengetahuan lain ke dalam praktek di kehidupan sehari-hari oleh sistem sosial yang melibatkan masyarakat dan organisasi, makhluk hidup dan mesin.
Hingga saat ini teknologi seringkali dibuat tanpa mempertimbangkan aspek-aspek budaya, padahal sudah seharusnya sebuah teknologi didisain sesuai dengan pola aktifitas masyarakat yang memiliki gaya hidup dan nilai-nilai budaya tertentu. Dari sini jelas bahwa aspek budaya seringkali diabaikan. Sebuah teknologi yang diperuntukkan bagi sebuah komunitas dengan nilai dan budaya tertentu, membutuhkan usaha-usaha yang tidak mudah agar dapat juga diterapkan pada komunitas yang lain.
Banyak teknologi yang pada akhirnya gagal diterapkan pada masyarakat dengan nilai, kepercayaan dan norma tertentu. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan cara pandang tentang hal yang akan dimudahkan dengan adanya teknologi tersebut, selain itu keahlian serta apresiasi terhadap teknologi juga berpengaruh terhadap kegagalan tersebut. Penghargaan/apresiasi terhadap penerapan teknologi sangatlah penting karena terobosan baru dari sebuah teknologi dapat muncul apabila ada kesatuan tata usaha, perawatan, dan disain teknik.
Sementara itu dari sisi teknokratnya, para ahli ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung hanya dididik mengenai prinsip-prinsip teknologi secara umum jika diterapkan dalam situasi kondisi yang general. Mereka umumnya tidak dibekali dengan pengetahuan yang matang untuk menghadapi situasi yang spesifik. Mereka mungkin peduli dengan masalah-masalah social yang akan dihadapi ketika sebuah teknologi diterapkan dalam masyarakat tertentu, namun seringkali mereka tidak yakin apakah tindakan yang akan diambil akan dapat mengatasi masalah.
Aspek cultural memang merupakan satu-satunya factor yang mempengaruhi teknologi yang bersifat abstrak dan tersembunyi. Seringkali inti permasalahan yang menyangkut nilai, norma, kepercayaan tertutupi oleh masalah-masalah perawatan (maintenance), kebijakan pemerintah ataupun aspek teknis. Sehingga terkadang, ilmuwan harus lebih sering untuk terjun ke lapangan untuk melihat secara langsung aspek-aspek cultural yang ada dalam bentuk kasus nyata penerapan teknologi tertentu di masyarakat, dan dari sanalah sesungguhnya insight untuk pemecahan masalah ataupun pembuatan teknologi baru diperoleh.
Sementara itu, masyarakat awam masih cenderung mengaitkan teknologi dengan alat daripada mengkaitkannya dengan sejumlah aktivitas manusia membuat masyarakat sulit untuk diajak berpikir mengenai konteks teknologi yang lebih luas yaitu perkembangannya terkait dengan aspek budaya. Pemikiran demikan disebut dengan interpretasi linear dimana masyarakat beranggapan teknologi hanya menyangkut masalah teknis. Hal ini akan mendorong masyarakat pada cara berpikir yang terlalu over-selective dimana masyarakat selalu melihat bahwa peningkatan di satu dimensi dari teknologi pasti diikuti oleh penurunan yang kurang memuaskan pada dimensi yang lain.
Interpretasi linear menganggap revolusi industri yang berawal dari ditemukannya mesin uap oleh James Watt adalah revolusi teknik yang membuka sistem ekonomi baru yaitu kapitalisme. Padahal keduanya sama sekali tidak terkait dengan keberadaan teknologi mesin uap karena pabrik-pabrik telah lama ada jauh sebelum mesin uap ditemukan.
Memang pada kenyataannya pabrik-pabrik tersebut tidak akan berkembang pesat tanpa adanya hasil temuan baru tersebut. Namun, jika kita menggali lebih dalam sesungguhnya organisasi kerjalah yang merupakan teknologi yang lebih dahulu ditemukan daripada mesin uap.
Semakin berkembangnya teknologi, tangan manusia digantikan oleh mesin dan hasil-hasil penemuan ilmiah sehingga makin memudahkan manusia, membut aspek organisasi semakin sederhana karena tidak ada pembagian kerja sehingga hanya dibutuhkan sedikit SDM. Mekanisasi ini diupayakan untuk meminimalisir biaya tenaga kerja. Dari sini, muncul pertanyaan, apakah teknologi moderen memikirkan aspek-aspek humanis? teknologi menggantikan tenaga manusia sehingga menimbulkan dampak meningkatnya pengangguran.
Para determinis, memberikan 2 pandangan terkait dengan kemajuan teknologi. Yaitu interpretasi yang dikaitkan dalam konteks yang luas, yaitu aspek organisasi dan interpretasi linear yang diekspresikan dengan grafik yang terus meningkat secara perlahan dan tetap. Namun interpretasi linear ini dapat mendorong orang pada optimisme yang salah dan memandang dengan pesimis dimensi lain dari teknologi karena sesungguhnya kemajuan teknologi tidak hanya dapat diukur dari mesinnya saja pengukurannya akan lebih efektif jika melibatkan operator atau sistem manusia yang mengendalikannya. Penggunaan interpretasi ini dengan menggunakan grafik dipakai untuk mempertahankan bahwa teknologi imparsial.
Daripada menjadi seorang technological determinist yang terus menerus mengembar-gemborkan bagaimana teknologi yang semakin maju mampu mengubah sistem social di masyarakat tentu akan lebih baik mencari tahu bagaimana kemajuan organisasi mampu mendorong munculnya teknologi baru. Dan tentunya akan lebih mudah jika kita melihat sebuah penemuan dengan menggunakan konsep penerapan teknologi dan keseluruhan aspek yang melingkupinya karena dengan demikian inovasi akan dapat dianggap sebagai hasil interaksi dari social, budaya dan teknik.
Dalam perkembangan teknologi di masa depan hal yang paling ditakutkan adalah makin berkurangnya energi di permukaan bumi, dan ada banyak pilihan bagi manusia untuk mencegahnya baik mengembangkan energi nuklir, energi matahari maupun memanfaatkan energi sebaik-baiknya. Dan semua hal ini pasti terkait dengan aspek organisasi yaitu menyangkut kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah.
Pada suatu titik waktu tertentu, ketika ketiga aspek teknologi dapat menjadi satu kesatuan yang harmonis, maka masyarakat akan memiliki kepedulian yang lebih terhadap berbagai keumngkinan yang akan terjadi ketika teknologi diterapkan, termasuk antisipasi serta pilihan tindakan untuk meminimalisir kurangnya energi di bumi akibat penerapan teknologi yang disalahgunakan ataupun dipakai berlebihan. Bahkan pada saat itu akan muncul gerakan inovasi yang akan mendorong pada perkembangan dan kemajuan industri ataupun bidang yang lain.
Teknologi yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini oleh para ilmuwan masih dianggap setengah jalan (halfway) karena masalah yang akan ditangani oleh teknologi hanya dipahami dengan setengah-setengah oleh masyarakat awam. Misalnya, keberadaan pompa air yang ditujukan untuk memudahkan masyarakat local untuk mendapatkan air bersih langsung dari sumbernya. Namun, tanpa adanya penyuluhan atau pemberian informasi bahwa pompa harus selalu dirawat dan dibersihkan agar pompa tidak mudah rusak dan tetap menghasilkan air yang higienis, maka teknologi tidak akan maju bahkan mengalami kemunduran. Setiap kasus yang menyangkut teknologi dalam konteks luas akan selalu berhubungan dengan aspek perilaku invidu dan aspek-aspek budaya seperti kebiasaan hidup dan tata nilai, oleh karena itu diperlukan kearifan para ilmuwan untuk menciptakan teknologi yang tidak hanya mampu mengatasi masalah yang ada di masyarakat tetapi juga mampu mencegah agar masalah tersebut jangan sampai terjadi.
Namun sering kali ilmuwan terlalu berlebihan dalam memprediksi kegunaan suatu teknologi yang dapat menyebabkan teknologi dalam jangka waktu tertentu diaplikasikan jauh dari kegunaan teknisnya dalam perkembangan dan industri. Misalnya saja pada penemuan energi nuklir yang mulanya hanya untuk mencari energi alternative pengganti barang tambang, ketika ilmuwan memprediksi bahwa teknologi nuklir dapat dipakai sebagai senjata pertahanan Negara, maka meletuslah perang dingin dengan Uni Soviet dimana teknologi nuklir berperan sebagai tombak di belakang konfrontasi antara 2 negara tersebut.
Dalam melihat hal ini, ilmuwan sudah sepantasnya sadar dan bekerja dengan lebih menekankan aspek humanis. Riset dan kontrol dari pemerintah juga sangat diperlukan sehingga mereka dapat mengontrol para ilmuwan untuk menciptakan teknologi yang dapat lebih maju sesuai dengan kegunaannya dalam aplikasi masyarakat sehari-hari tanpa melenceng jauh dan memberikan dampak yang berbahaya bagi kehidupan manusia.
Sumber :
Pacey, Arnold. The Culture of Technology. Cambridge: MIT Press, 1983, 1-54
Last Updated ( Monday, 17 September 2007 )
Mengutip dari : Written by Riska Yuniar Rahmawati Nabhani
Selasa, 04 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar