DERING PONSEL DI DAERAH TERTINGGAL
Keberadaan teknologi komunikasi selular akhirnya mengubah pola komunikasi masyarakat pedalaman, yang secara sosial sering disebut daerah tertinggal. Padahal puluhan tahun lalu, sebelum ada teknologi komunikasi, sistem komunikasi yang berkembang di daerah-daerah tersebut masih memakai saluran sederhana. Komunikasi tatap muka menjadi sarana komunikasi utama masyarakat. Sedangkan komunikasi menggunakan alat masih dilakukan dengan kentongan, atau paling canggih dengan bantuan speaker. Keberadaan jaringan ponsel sebagai saluran komunikasi dapat mempercepat proses menyampaikan pesan-pesan (message) kepada penerima (receiver) dari individu yang satu kepada individu lainnya. Saluran komunikasi selular saat ini dianggap sebagai saluran yang efektif dalam komunikasi antarpribadi. Hal ini kemudian membawa perubahan bagi interaksi sosial dan interaksi ekonomi pada masyarakat di daerah tertinggal yang sebelumnya masih bersifat tradisional.
Sulitnya Berkomunikasi di Daerah Terpencil
Di lokasi transmigrasi yang sebagian besar berada di daerah terpencil, alat komunikasi merupakan sesuatu yang mahal. Ketika masyarakat kota bisa berkomunikasi melalui telepon, mereka masih menggunakan surat dan telegram. Sampai akhir tahun 1990-an, untuk bisa bercakap-cakap melalui telepon dengan kerabat di pulau Jawa harus menempuh perjalanan dua sampai tiga jam. Hal ini menyebabkan terlambatnya penyampaian informasi dan berita keluarga ke masyarakat. Kondisi ini menyebabkan terlambatnya proses pembangunan karena keterbatasan pemilikan alat komunikasi dan minimnya akses terhadap sumber informasi. Sulitnya berkomunikasi dengan masyarakat di daerah lain menyebabkan terhambatnya penyebaran informasi. Sehingga penduduk pedalaman hanya berkutat dengan interaksi komunikasi di lingkungan sekitar. Padahal di perkotaan perkembangan informasi sudah demikian pesat dan selalu berubah. Kemudian setelah berkembangnya era telepon satelit, lambat laun jarak untuk dapat berkomunikasi lewat telepon tidak menjadi masalah. Beberapa orang mulai berlangganan telepon satelit untuk pribadi ataupun komersial. Namun harga komunikasi dengan telepon satelit masih sangat tinggi, sehingga tidak semua orang bisa menggunakannya. Bayangkan, untuk menelepon beberapa menit saja harus mengeluarkan biaya sampai ratusan ribu rupiah. Keberadaan telepon satelit ternyata belum memberikan perubahan berarti dari pemanfaatan teknologi komunikasi bagi masyarakat pedalaman. Apalagi kondisi infrastruktur, seperti jalan raya dan listrik belum mendukung perubahan. Sehingga beberapa orang yang sebelumnya berlangganan telepon satelit satu persatu mulai berhenti karena mahalnya biaya dan kualitas jaringan yang buruk. Sebab tingginya biaya operasional belum bisa menjamin kepuasan berkomunikasi. Suara yang dihasilkan telepon satelit tersebut sering putus-putus, terdengar tidak jelas dan sinyalnya juga hilang timbul. Dengan kondisi seperti itu, masyarakat belum mendapat kepuasan penggunaan teknologi komunikasi. Itulah gambaran kondisi komunikasi daerah tertinggal sebelum ada jaringan ponsel.
Teknologi Selular Merubah Segalanya
Kehadiran telepon selular dalam kehidupan masyarakat transmigrasi dan pedalaman lainnya, merupakan suatu kemajuan dalam bidang komunikasi. Meskipun datangnya terlambat tetapi teknologi selular menjadi teknologi komunikasi paling modern yang ekonomis dan menjanjikan kualitas. Salah satu kelebihan utama ponsel yaitu sifatnya yang mobile dan memberikan keleluasaan berkomunikasi tanpa sekat ruang dan waktu selama masih ada jaringan operator. Revolusi komunikasi pedalaman tersebut dimulai awal tahun 2000-an. Namun operator ponsel masih memasang tower jaringan di daerah sekitar jalan raya yang jaraknya lebih 10 kilometer dari lokasi transmigrasi terdekat. Sehingga untuk mendapatkan sinyal pengguna perlu bantuan antena luar (outdoor antenna) setinggi 8 – 15 meter. Itupun masih terdapat noise (gangguan) dalam berkomunikasi seperti sinyal putus-putus dan suara yang tidak jelas. Namun setidaknya kehadiran operator ponsel memberikan sinyal positif bagi perkembangan teknologi komunikasi di daerah transmigrasi. Baru kemudian sekitar awal tahun 2006 saat para operator ponsel ekspansi ke daerah-daerah terpencil, salah satu operator memasang tower jaringan di perkampungan transmigrasi tersebut. Padahal di tempat itu belum terdapat sumber listrik PLN seperti umumnya lokasi pemasangan tower jaringan selular. Satu-satunya sumber listrik bagi penduduk adalah genset yang hanya beroperasi dari jam 5 sore sampai 6 pagi. Meskipun demikian komunikasi dengan ponsel bisa dilakukan selama 24 jam dengan kualitas yang sama dengan di kota besar. Perubahan cara berkomunikasi masyarakat daerah tertinggal seperti dicontohkan di atas, dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan sinyal positif bagi percepatan pembangunan. Sebab mereka mampu mengadopsi perkembangan teknologi komunikasi yang bergerak sangat cepat. Teknologi selular telah menimbulkan pembaruan komunikasi bagi masyarakat pedalaman. Teknologi ini mengubah cara berkomunikasi, memperoleh, dan menyebarkan informasi. Kini distribusi informasi dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Sesuatu yang dulu merupakan impian bagi masyarakat daerah tertinggal, kini menjadi kenyataan dengan hadirnya operator selular. Bagaimanapun juga perkembangan teknologi komunikasi membawa perubahan bagi masyarakat. Salah satu sisi positif kehadiran jaringan ponsel akan menumbuhkan harapan-harapan baru bagi peningkatan taraf hidup. Masyarakat transmigran di kampung saya yang menjadi contoh kasus dalam tulisan ini, memanfaatkan ponsel untuk bertukar informasi tentang perkembangan harga kelapa sawit. Mereka yang umumnya petani kelapa sawit cepat mengetahui informasi penawaran harga tertinggi dari beberapa pabrik di daerah tersebut. Pemesanan pupuk dari distributor di kota juga bisa dilakukan melalui ponsel. Hal ini berbeda sekali dengan beberapa tahun lalu, informasi harga tidak cepat diketahui dan pemesanan pupuk harus langsung datang ke kota. Interaksi ekonomi melalui bantuan teknologi komunikasi selular ini memberi dampak positif bagi peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat di daerah tertinggal. Penggunaan ponsel juga memberikan perubahan interaksi sosial masyarakat, dilihat dari cara berkomunikasi. Kehadiran ponsel lambat laun mengurangi interaksi tatap muka. Penyebaran informasi yang sebelumnya dilakukan secara door to door kini cukup melalui SMS. Percakapan dengan tetanggapun bisa dilakukan tanpa beranjak dari tempat duduk. Hal ini kadang menimbulkan kekecewaan-kekecewaan baru karena kemajuan teknologi tersebut tidak diiringi dengan kesiapan mental masyarakat yang menerimanya. Dari segi tren dan gaya hidup, masyarakat di pedalaman kini tak mau tertinggal dengan masyarakat kota. Perkembangan teknologi selular yang dibarengi dengan perkembangan teknologi HP dari berbagai merek, membuat masyarakat khususnya remaja, mengikuti tren berganti-ganti HP dengan seri terbaru. Perubahan gaya hidup ini juga disebabkan karena pengaruh budaya konsumerisme melalui iklan-iklan HP dan semakin meningkatnya daya beli mereka. Kini bagi masyarakat pedalaman, kehadiran ponsel bukan lagi menjadi kebutuhan tetapi sudah menjadi bagian dari perilaku kehidupan. Karena penggunaan ponsel memberi kontribusi yang cukup besar bagi pengembangan kompetensi sosial masyarakat.
Petani Kini Tidak Gagap Teknologi
Untuk mencapai tujuan pembangunan di daerah tertinggal, diperlukan langkah-langkah yang memungkinkan bagi masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh informasi dengan lebih cepat. Implikasinya dibentuk dengan strategi penyampaian pesan-pesan melalui saluran komunikasi yang baik. Teknologi selular merupakan salah satu jawaban untuk meningkatkan percepatan informasi antarpenduduk. Sejarah mencatat, sebagian besar percepatan pembangunan dimulai dan didorong oleh teknologi baru. Di sini teknologi komunikasi memainkan peranan utama dan dianggap “sektor nomor satu” dalam percepatan pembangunan. Peranan operator selular dalam percepatan pembangunan daerah tertinggal adalah sebagai agen pembaru (agent of communication change). Letak peranannya adalah dalam hal membantu mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat yang modern. Khususnya peralihan dari kebiasaan-kebiasaan berkomunikasi yang menghambat pembangunan ke arah sikap baru yang tanggap terhadap pembaruan demi pembangunan. Meskipun sejarah membuktikan perubahan sosial berjalan lambat, tetapi kehadiran operator selular menjadikannya lebih cepat. Hal ini disebabkan, pemilik teknologi komunikasi menerapkan teknologinya secara cepat kepada masyarakat. Masyarakat daerah tertinggal, termasuk daerah transmigrasi yang berada di pedalaman merupakan salah satu contoh konkret cepatnya perubahan karena teknologi komunikasi. Kemudahan-kemudahan yang diberikan dari perkembangan teknologi ini menyebabkan masyarakat cepat menerimanya. Sehingga para petani yang dulu hanya mengenal alat-alat pertanian, kini pergi ke ladang juga membawa ponsel. Kehadiran operator selular membuat petani di pedalaman tidak gagap terhadap teknologi komunikasi. Sehingga di antara rerimbun ilalang dan pohon-pohon kelapa sawit sering terdengar dering ponsel. Suatu perubahan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Penguasaan teknologi oleh petani merupakan salah satu ciri percepatan pembangunan di daerah tertinggal. Sebab petani mempunyai peranan penting dalam struktur perekonomian di daerah-daerah pedalaman. Berbagai kemudahan karena teknologi informasi membawa peningkatan taraf hidup masyarakat. Hal ini disebabkan karena akses informasi ekonomi seperti harga, pasar, penawaran, dan permintaan hasil-hasil pertanian diterima petani dengan cepat. Perubahan perilaku komunikasi ini berkorelasi dengan perilaku ekonomi masyarakat.
Pengaruh lain setelah diperkenalkannya teknologi komunikasi mutakhir kepada masyarakat di daerah tertinggal, adalah tersedianya saluran komunikasi bagi orang-orang buta huruf. Mereka yang sebelumnya tidak dapat bisa menggunakan alat komunikasi tertulis (surat), kini dapat memberi dan menerima informasi dari sanak saudara dengan ponsel. Sehingga peran operator selular menjadi sangat penting bagi perubahan cara berkomunikasi mereka.
Masa Depan Pemanfaatan Teknologi Selular di Pedalaman
Ke depan tidak tertutup kemungkinan, operator selular dapat membangun jaringan internet pedesaan untuk kepentingan pembangunan perekonomian (E-commerce), pendidikan (E-education) dan pelayanan publik (E-government). Tersedianya fasilitas GPRS, 3G dan koneksi internet melalui ponsel merupakan modal untuk pembangunan sarana komunikasi online di pedalaman. Dalam konteks ini perusahaan-perusahaan operator selular dapat memanfaatkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pemberdayaan komunikasi masyarakat daerah tertinggal. Merupakan suatu langkah luar biasa bila ada operator selular yang berani mengangkat kehidupan masyarakat daerah tertinggal yang identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Secara ekonomi (E-commerce), internet di pedesaan membantu petani dan nelayan sebagai komunitas ekonomi terbesar, untuk meningkatkan pengetahuan kegiatan ekonominya melalui percepatan informasi. Mereka juga dapat memperluas pasar hasil pertanian dan perikanan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu petani dan nelayan juga bisa berproduksi sesuai dengan permintaan pasar, karena kemudahan informasi tersebut. Dengan bantuan koneksi internet operator selular, mereka mampu meningkatkan kualitas hasil dan mengontrol supply dan demand. Dalam bidang pendidikan (E-Education), hingga saat ini semua sekolah di pedalaman belum mengenal internet. Kondisi ini menyebabkan pendidikan di daerah tertinggal sulit berkembang. Kehadiran operator seluler diharapkan dapat memberikan perubahan melalui layanan teknologi komunikasi untuk mendukung proses belajar mengajar. Sebab kebijakan pendidikan saat ini menuntut kesetaraan penguasaan pengetahuan antara sekolah di perkotaan dan di pedalaman. Dengan internet pedesaan yang terhubung melalui jaringan ponsel, diharapkan siswa sekolah di daerah tertinggal tidak gagap terhadap perkembangan teknologi dan informasi. Meskipun penciptaan digitalisasi pelayanan publik (E-government) di pedalaman terbentur berbagai keterbatasan, bukan tidak mungkin untuk ke depan operator selular membuat gebrakan baru dalam bidang tersebut. Luasnya jaringan operasi operator selular bila diikuti dengan pengembangan teknologi, tidak mustahil mampu membuat sistem komunikasi online sampai ke pemerintahan desa. Dengan demikian pelayanan publik dan keunggulan-keunggulan lokal di daerah tertinggal dapat diglobalisasikan melalui sentra komunikasi jaringan selular. Berbagai paradigma pemanfataan teknologi komunikasi selular untuk kepentingan publik tersebut, sesuai dengan ramalan salah seorang penggagas komunikasi pembangunan Wilbur Schramm (1907 – 1987), bahwa masa mendatang merupakan “Dekade Satelit”. Satelit-satelit komunikasi dirancang untuk menghasilkan “efek ganda” terhadap penyebaran media massa, telekomunikasi, dan transmisi data. Penyesuaian arus kemajuan teknologi dengan kemampuan masyarakat dalam menyerap teknologi komunikasi dinilai sebagian besar ahli komunikasi sebagai syarat keberhasilan pembangunan. Dengan demikian teknologi akan berkembang seirama dengan kemampuan masyarakat dalam menerima teknologi tersebut. Bagi daerah-daerah yang sedang berkembang, kebijaksanaan komunikasi hendaknya ditujukan pada pencapaian “keseimbangan dinamis” dari pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sehingga tercapai stabilitas sosial. Di sini yang patut dicatat, perkembangan teknologi komunikasi di daerah-daerah tertinggal selalu ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana masyarakat memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut. Ponsel memang terbukti mengubah sistem komunikasi masyarakat pedalaman. Artinya operator selular telah membantu revolusi komunikasi masyarakat daerah tertinggal dengan teknologi komunikasi selular yang dibawanya. Sehingga terjadi pemerataan penguasaan teknologi komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan demikian pembangunan teknologi komunikasi dapat mempercepat pembangunan ekonomi daerah-daerah tertinggal.
SUMBER : http://zanikhan.multiply.com
Selasa, 30 Desember 2008
Minggu, 21 Desember 2008
sejarah perkembangan televisi
Nama : Resgana Fitra Kumara(061625)
SEJARAH PERKEMBANGAN TELEVISI
Pada tahun 1962 menjadi tonggak pertelevisian Nasional Indonesia dengan berdiri dan beroperasinya TVRI. Pada perkembangannya TVRI menjadi alat strategis pemerintah dalam banyak kegiatan, mulai dari kegiatan sosial hingga kegiatan-kegiatan politik. Selama beberapa decade TVRI memegang monopoli penyiaran di Indonesia, dan menjadi “ corong “ pemerintah. Sejak awal keberadaan TVRI, siaran berita menjadi salah satu andalan. Bahkan Dunia dalam Berita dan Berita Nasional ditayangkan pada jam utama. Bahkan Metro TV menjadi stasiun TV pertama di Indonesia yang fokus pada pemberitaan, layaknya CNN atau Al-Jazeera. Pada awalnya, persetujuan untuk mendirikan televisi hanya dari telegram pendek Presiden Soekarno ketika sedang melawat ke Wina, 23 Oktober 1961. Sulit dibayangkan bagiamana repotnya dan susahnya ketika itu, karena bahkan untuk memlilih peralatan yang mana dari perusahaan apa, masih serba menerka. Dalam perkembangannya, TV swasta melahirkan siaran berita yang lebih variatif. Siaran berita yang bersifat straight news, seperti Liputan 6 (SCTV), Metro Malam (Metro TV), dan Seputar Indonesia (RCTI) tidak jadi satu-satunya pakem berita televisi. Kurang dalamnya straight news disiasati stasiun TV dengan tayang depth reporting, yang mengulas suatu berita secara lebih mendalam. Tayangan itu antara lain Metro Realitas (Metro TV), Derap Hukum dan Sigi (SCTV) dan Kupas Tuntas (Trans TV). Sementara itu, berita kriminal mendapat tempat tersendiri dalam dunia pemberitaan televisi, sebutlah Buser (SCTV), Sergap (RCTI) dan Patroli (Indosiar). Tonggak kedua dunia pertelevisian adalah pada tahun 1987, yaitu ketika diterbitkannya Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor : 190 A/ Kep/ Menpen/ 1987 tentang siaran saluran terbatas, yang membuka peluang bagi televisi swasta untuk beroperasi. Seiring dengan keluarnya Kepmen tersebut, pada tanggal 24 agustus 1989 televisi swasta, RCTI, resmi mengudara, dan tahun-tahun berikutnya bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta baru, berturut-turut adalah SCTV ( 24/8/90 ), TPI ( 23/1/1991 ), Anteve ( 7/3/1993 ), indosiar ( 11/1/1995 ), metro TV ( 25/11/2000 ), trans TV ( 25/11/2001 ), dan lativi ( 17/1/2002 ). Selain itu, muncul pula TV global dan TV 7. jumlah stasiun televisi swasta Nasional tersebut belum mencakup stasiun televisi lokal – regional.. Maraknya komunitas televisi swasta membawa banyak dampak dalam kehidupan masyarakat, baik positif atau negatif. Kehadiran mereka pun sering menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Pada satu sisi masyarakat dipuaskan oleh kehadiran mereka yang menayangkan hiburan dan memberikan informasi, namun di sisi lain mereka pun tidak jarang menuai kecaman dari masyarakat karena tayangan-tayangan mereka yang kurang bisa diterima oleh masyarakat ataupun individu-individu tertentu. Bagaimanapun juga, televisi telah menjadi sebuah keniscayaan dalam masyarakat dewasa ini. Kemampuan televisi yang sangat menakjubkan untuk menembus batas-batas yang sulit ditembus oleh media masa lainnya. Televisi mampu menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis, ia juga hadir di ruang-ruang publik hingga ruang yang sangat pribadi. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup ( gerak atau live ) yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Oleh karena itu, ia memiliki sifat yang sangat istimewa.
Kemampuan televisi yang luar biasa tersebut sangat bermanfaat bagi banyak pihak, baik dari kalangan ekonomi, hingga politik. Bagi kalangan ekonomi televisi sering dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk pada konsumen. Sementara, bagi kalangan politik, televisi sering dimanfaatkan sebagai media kampanye untuk menggalang masak, contohnya adalah, banyak pihak yang menilai kemenangan SBY di Indonesia dan JFK di Amerika sebagai presiden adalah karena kepiawaian mereka memenfaatkan media televisi. Belakangan, televisi pun sering dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai media sosialisasi sebuah kebijakan yang akan di ambil kepada masyarakat luas, seperti yang belakangan adalah sosialisasi tentang kenaikan harga BBM dan tarip dasar listrik. Kehadiran televisi banyak memberi pengaruh positif dalam masyarakat, terutama yang terkait dengan kemampuannya untuk menyebar informasi yang cepat dan dapat diterima dalam wilayah yang sangat luas pada waktu yang singkat. Hasil penelitian MRI ( 2001 ) terhadap para ibu yang diungkapkan oleh Puspito ( Almira-online ) menyebutkan bahwa siaran televisi memberikan dampak positif bagi anak-anak mereka. Diantara dampak positif tersebut adalah menambah wawasan anak, anak menjadi lebih cerdas, anak dapat membedakan yang baik dan jahat, serta dapat mengembangkan keterampilan anak. Dampak negatif yang ia lihat pada anak mereka, yaitu berperilaku keras, moralitas negatif, anak pasif, dan tidak kreatif nilai sekolah rendah, kecanduan menonton, dan perilaku konsumtif.
• SEJARAH TELEVISI LOKAL Penyiaran saat ini tidak lagi menjadi monopoli Jakarta. Fenomena menjamurnya televisi lokal di berbagai daerah dapat dijadikan indikator telah menyebarnya sumber daya penyiaran. Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), sebuah organisasi tempat bergabungnya televisi lokal yang berdiri pada 26 Juli 2002, hingga saat ini telah menghimpun sebanyak 23 industri televisi lokal. Anggotanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, ada Bandung TV di Bandung, Bali TV di Bali, Riau TV di Pekanbaru Riau, dan berbagai daerah lainnya. Belum lagi keberadaan televisi lokal lainnya yang belum terdata sama sekali. Dapat dibayangkan betapa ramainya udara Indonesia di masa yang akan datang dengan maraknya televisi lokal yang akan bermunculan. menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada persoalan sulitnya mendapatkan share iklan. Iklan merupakan masalah tersendiri yang cukup membuat gelisah para pengelola sebagian besar televisi lokal. Potret buruknya sistem manajemen sebagian televisi lokal dapat dilihat dalam peristiwa protes karyawan salah satu televisi lokal yang terjadi di tahun 2005. Protes karyawan dilatarbelakangi karena rendahnya upah yang diterima serta tidak adanya kepastian kerja bagi mereka. Tumpuan harapan
Publik sesungguhnya menaruh harapan begitu tinggi terhadap televisi lokal. Kehadirannya di belantika penyiaran diharapkan dapat memberi alternatif tontonan dan dapat mengakomodasi khazanah lokalitas yang saat ini kurang tertampung dalam tayangan televisi Zaman telah berubah, konsentrasi media dan pemusatan modal ingin dihilangkan. Walau tidak bisa dilakukan secara langsung, keinginan menyebar sumber daya itu akan dilakukan secara bertahap seiring dengan penataan sistem dan regulasinya. Ini merupakan berkah yang patut disyukuri masyarakat daerah.
Bila keadaan ini terus berjalan sesuai harapan, geliat industri penyiaran di daerah akan berkembang dan orang tidak lagi melihat Jakarta sebagai pusat peradaban penyiaran. Peradaban penyiaran lambat laun akan tumbuh di berbagai daerah. Fenomena ini mungkin hampir sama dengan keadaan pada zaman Yunani kuno. Di sana polis- polis berkembang dan kebudayaan tidak terpusat di suatu tempat. Tanggung jawab pengelola
Banyaknya masalah yang dihadapi oleh industri televisi lokal menuntut perhatian dan upaya untuk mengatasinya. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab regulator penyiaran, melainkan juga menjadi tanggung jawab pengelola televisi lokal itu sendiri. Dari sudut regulator diharapkan ada regulasi atau kebijakan yang memihak terhadap tumbuhkembangnya televisi lokal. Pemihakan itu kemudian dituangkan dalam produk peraturan. Dari sisi televisi lokal, harus segera dilakukan upaya, antara lain pertama, televisi lokal harus mampu menciptakan keunikan dari program siaran yang dikelolanya. Bila hal ini dapat dilakukan, setidaknya televisi lokal dapat membangun posisi tawar di hadapan televisi Jakarta dan dapat meraih pemirsa daerah yang selama ini menjadi penonton loyal televisi local. Bila televisi lokal telah menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, rasanya cita-cita mewujudkan sistem penyiaran nasional yang berkeadilan bukanlah sebuah impian yang utopis. Pada era otonomi daerah, peran media massa makin urgen. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah lebih menitikberatkan pada partisipasi dan kontrol masyarakat serta pemberdayaan institusi lokal. Salah satu upaya yang harus dilakukan demi suksesnya otonomi daerah adalah mengoptimalkan peran institusi lokal nonpemerintah, seperti media massa. Strategi komunikasi yang berkembang pun tidak lagi centrist vertical seperti pada masa Orde Baru. Pada masa itu, media massa hanya menjadi corong komunikator puncak yang duduk di jabatan tertinggi pemerintahan sehingga informasi yang beredar pun hanya untuk kepentingan pemerintahan. Sementara itu, masyarakat diposisikan hanya sebagai komunikan yang dijejali dengan berbagai propaganda. Di Indonesia saat ini sudah berkembang startegi komunikasi two way traffic yang dalam pandangan Peterson dan Burnett, telah terjadi komunikasi vertikal downward communication dan upward communication. Realitas tersebut merupakan angin surga bagi kehidupan media massa di tanah air. Setidaknya, media massa pada orde ini dapat lebih memberdayakan dirinya sembari tetap mempertahankan empat fungsi pokoknya, yakni, memberikan informasi (to inform), menjadi media pendidikan (to educate), sarana hiburan bagi masyarakat (to entertain), dan kontrol sosial (social control). Keempat fungsi pokok tersebut harus dikayuh dalam bingkai-bingkai norma yang berlaku, baik norma hukum, norma agama, norma susila, maupun norma kesopanan.
Sumber : http://wa2npo3nya.blogspot.com
SEJARAH PERKEMBANGAN TELEVISI
Pada tahun 1962 menjadi tonggak pertelevisian Nasional Indonesia dengan berdiri dan beroperasinya TVRI. Pada perkembangannya TVRI menjadi alat strategis pemerintah dalam banyak kegiatan, mulai dari kegiatan sosial hingga kegiatan-kegiatan politik. Selama beberapa decade TVRI memegang monopoli penyiaran di Indonesia, dan menjadi “ corong “ pemerintah. Sejak awal keberadaan TVRI, siaran berita menjadi salah satu andalan. Bahkan Dunia dalam Berita dan Berita Nasional ditayangkan pada jam utama. Bahkan Metro TV menjadi stasiun TV pertama di Indonesia yang fokus pada pemberitaan, layaknya CNN atau Al-Jazeera. Pada awalnya, persetujuan untuk mendirikan televisi hanya dari telegram pendek Presiden Soekarno ketika sedang melawat ke Wina, 23 Oktober 1961. Sulit dibayangkan bagiamana repotnya dan susahnya ketika itu, karena bahkan untuk memlilih peralatan yang mana dari perusahaan apa, masih serba menerka. Dalam perkembangannya, TV swasta melahirkan siaran berita yang lebih variatif. Siaran berita yang bersifat straight news, seperti Liputan 6 (SCTV), Metro Malam (Metro TV), dan Seputar Indonesia (RCTI) tidak jadi satu-satunya pakem berita televisi. Kurang dalamnya straight news disiasati stasiun TV dengan tayang depth reporting, yang mengulas suatu berita secara lebih mendalam. Tayangan itu antara lain Metro Realitas (Metro TV), Derap Hukum dan Sigi (SCTV) dan Kupas Tuntas (Trans TV). Sementara itu, berita kriminal mendapat tempat tersendiri dalam dunia pemberitaan televisi, sebutlah Buser (SCTV), Sergap (RCTI) dan Patroli (Indosiar). Tonggak kedua dunia pertelevisian adalah pada tahun 1987, yaitu ketika diterbitkannya Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor : 190 A/ Kep/ Menpen/ 1987 tentang siaran saluran terbatas, yang membuka peluang bagi televisi swasta untuk beroperasi. Seiring dengan keluarnya Kepmen tersebut, pada tanggal 24 agustus 1989 televisi swasta, RCTI, resmi mengudara, dan tahun-tahun berikutnya bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta baru, berturut-turut adalah SCTV ( 24/8/90 ), TPI ( 23/1/1991 ), Anteve ( 7/3/1993 ), indosiar ( 11/1/1995 ), metro TV ( 25/11/2000 ), trans TV ( 25/11/2001 ), dan lativi ( 17/1/2002 ). Selain itu, muncul pula TV global dan TV 7. jumlah stasiun televisi swasta Nasional tersebut belum mencakup stasiun televisi lokal – regional.. Maraknya komunitas televisi swasta membawa banyak dampak dalam kehidupan masyarakat, baik positif atau negatif. Kehadiran mereka pun sering menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Pada satu sisi masyarakat dipuaskan oleh kehadiran mereka yang menayangkan hiburan dan memberikan informasi, namun di sisi lain mereka pun tidak jarang menuai kecaman dari masyarakat karena tayangan-tayangan mereka yang kurang bisa diterima oleh masyarakat ataupun individu-individu tertentu. Bagaimanapun juga, televisi telah menjadi sebuah keniscayaan dalam masyarakat dewasa ini. Kemampuan televisi yang sangat menakjubkan untuk menembus batas-batas yang sulit ditembus oleh media masa lainnya. Televisi mampu menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis, ia juga hadir di ruang-ruang publik hingga ruang yang sangat pribadi. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup ( gerak atau live ) yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Oleh karena itu, ia memiliki sifat yang sangat istimewa.
Kemampuan televisi yang luar biasa tersebut sangat bermanfaat bagi banyak pihak, baik dari kalangan ekonomi, hingga politik. Bagi kalangan ekonomi televisi sering dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk pada konsumen. Sementara, bagi kalangan politik, televisi sering dimanfaatkan sebagai media kampanye untuk menggalang masak, contohnya adalah, banyak pihak yang menilai kemenangan SBY di Indonesia dan JFK di Amerika sebagai presiden adalah karena kepiawaian mereka memenfaatkan media televisi. Belakangan, televisi pun sering dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai media sosialisasi sebuah kebijakan yang akan di ambil kepada masyarakat luas, seperti yang belakangan adalah sosialisasi tentang kenaikan harga BBM dan tarip dasar listrik. Kehadiran televisi banyak memberi pengaruh positif dalam masyarakat, terutama yang terkait dengan kemampuannya untuk menyebar informasi yang cepat dan dapat diterima dalam wilayah yang sangat luas pada waktu yang singkat. Hasil penelitian MRI ( 2001 ) terhadap para ibu yang diungkapkan oleh Puspito ( Almira-online ) menyebutkan bahwa siaran televisi memberikan dampak positif bagi anak-anak mereka. Diantara dampak positif tersebut adalah menambah wawasan anak, anak menjadi lebih cerdas, anak dapat membedakan yang baik dan jahat, serta dapat mengembangkan keterampilan anak. Dampak negatif yang ia lihat pada anak mereka, yaitu berperilaku keras, moralitas negatif, anak pasif, dan tidak kreatif nilai sekolah rendah, kecanduan menonton, dan perilaku konsumtif.
• SEJARAH TELEVISI LOKAL Penyiaran saat ini tidak lagi menjadi monopoli Jakarta. Fenomena menjamurnya televisi lokal di berbagai daerah dapat dijadikan indikator telah menyebarnya sumber daya penyiaran. Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), sebuah organisasi tempat bergabungnya televisi lokal yang berdiri pada 26 Juli 2002, hingga saat ini telah menghimpun sebanyak 23 industri televisi lokal. Anggotanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, ada Bandung TV di Bandung, Bali TV di Bali, Riau TV di Pekanbaru Riau, dan berbagai daerah lainnya. Belum lagi keberadaan televisi lokal lainnya yang belum terdata sama sekali. Dapat dibayangkan betapa ramainya udara Indonesia di masa yang akan datang dengan maraknya televisi lokal yang akan bermunculan. menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada persoalan sulitnya mendapatkan share iklan. Iklan merupakan masalah tersendiri yang cukup membuat gelisah para pengelola sebagian besar televisi lokal. Potret buruknya sistem manajemen sebagian televisi lokal dapat dilihat dalam peristiwa protes karyawan salah satu televisi lokal yang terjadi di tahun 2005. Protes karyawan dilatarbelakangi karena rendahnya upah yang diterima serta tidak adanya kepastian kerja bagi mereka. Tumpuan harapan
Publik sesungguhnya menaruh harapan begitu tinggi terhadap televisi lokal. Kehadirannya di belantika penyiaran diharapkan dapat memberi alternatif tontonan dan dapat mengakomodasi khazanah lokalitas yang saat ini kurang tertampung dalam tayangan televisi Zaman telah berubah, konsentrasi media dan pemusatan modal ingin dihilangkan. Walau tidak bisa dilakukan secara langsung, keinginan menyebar sumber daya itu akan dilakukan secara bertahap seiring dengan penataan sistem dan regulasinya. Ini merupakan berkah yang patut disyukuri masyarakat daerah.
Bila keadaan ini terus berjalan sesuai harapan, geliat industri penyiaran di daerah akan berkembang dan orang tidak lagi melihat Jakarta sebagai pusat peradaban penyiaran. Peradaban penyiaran lambat laun akan tumbuh di berbagai daerah. Fenomena ini mungkin hampir sama dengan keadaan pada zaman Yunani kuno. Di sana polis- polis berkembang dan kebudayaan tidak terpusat di suatu tempat. Tanggung jawab pengelola
Banyaknya masalah yang dihadapi oleh industri televisi lokal menuntut perhatian dan upaya untuk mengatasinya. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab regulator penyiaran, melainkan juga menjadi tanggung jawab pengelola televisi lokal itu sendiri. Dari sudut regulator diharapkan ada regulasi atau kebijakan yang memihak terhadap tumbuhkembangnya televisi lokal. Pemihakan itu kemudian dituangkan dalam produk peraturan. Dari sisi televisi lokal, harus segera dilakukan upaya, antara lain pertama, televisi lokal harus mampu menciptakan keunikan dari program siaran yang dikelolanya. Bila hal ini dapat dilakukan, setidaknya televisi lokal dapat membangun posisi tawar di hadapan televisi Jakarta dan dapat meraih pemirsa daerah yang selama ini menjadi penonton loyal televisi local. Bila televisi lokal telah menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, rasanya cita-cita mewujudkan sistem penyiaran nasional yang berkeadilan bukanlah sebuah impian yang utopis. Pada era otonomi daerah, peran media massa makin urgen. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah lebih menitikberatkan pada partisipasi dan kontrol masyarakat serta pemberdayaan institusi lokal. Salah satu upaya yang harus dilakukan demi suksesnya otonomi daerah adalah mengoptimalkan peran institusi lokal nonpemerintah, seperti media massa. Strategi komunikasi yang berkembang pun tidak lagi centrist vertical seperti pada masa Orde Baru. Pada masa itu, media massa hanya menjadi corong komunikator puncak yang duduk di jabatan tertinggi pemerintahan sehingga informasi yang beredar pun hanya untuk kepentingan pemerintahan. Sementara itu, masyarakat diposisikan hanya sebagai komunikan yang dijejali dengan berbagai propaganda. Di Indonesia saat ini sudah berkembang startegi komunikasi two way traffic yang dalam pandangan Peterson dan Burnett, telah terjadi komunikasi vertikal downward communication dan upward communication. Realitas tersebut merupakan angin surga bagi kehidupan media massa di tanah air. Setidaknya, media massa pada orde ini dapat lebih memberdayakan dirinya sembari tetap mempertahankan empat fungsi pokoknya, yakni, memberikan informasi (to inform), menjadi media pendidikan (to educate), sarana hiburan bagi masyarakat (to entertain), dan kontrol sosial (social control). Keempat fungsi pokok tersebut harus dikayuh dalam bingkai-bingkai norma yang berlaku, baik norma hukum, norma agama, norma susila, maupun norma kesopanan.
Sumber : http://wa2npo3nya.blogspot.com
Artikel Perkembangan Banten Tv
Perkembangan Banten Tv
Banten Tv yang merupakan tv lokal masyarakat Propinsi Banten mulai mengudara di tahun 2006. Program- program yang yang ditawarkan adalah program berita, hiburan untuk anak muda, sampai hiburan untuk keluarga. Presentasi siaran Banten tv ke masyarakat adalah bersifat berimbang, antara news dan entertain. Acara- acara Banten tv sendiri belum bisa banyak memproduksi acara- acara sendiri karena terbentur oleh modal yang harus memenuhi BEP (titik impas) pemilik modal.
Dana operasional Banten tv sendiri sebagian besar masih dari pemilik modal, karena iklan- iklan di Banten tv belum banyak bermunculan. Sebab memperoleh iklan untuk dana operasional masih membutuhkan waktu, karena Banten tv merupakan tv lokal yang baru. Sehingga dengan banyaknya iklan, maka ke depan Bnanten tv akan bisa memproduksi acara sendiri.
Berbicar soal kendala maupun kelemahan Banten tv, tentunya masih ada. Misalnya seperti misalnya seperti produksi dari Bnaten tv sendiri yang kurang banyak, kendala modal yang harus memenuhi BEP (titik impas) dan kelemahan yang menjadi pembicaraan seperti siaran Banten tv yang sering mengganggu siaran tv nasional ke daerah Banten, karena tv nasional terbentur pemancar Banten tv bertransmisi 10.000 watt. Sehingga dengan adanya hal ini, masyarakat seringkali dikeluhkan dengan tergganggunya siaran tv nasional. Di lain hal, jangkauan tv (Banten tv) berpengaruh juga pada iklan di tv lokal. Sehingga wajarlah jika iklan- iklan di Banten tv belim banyak bermunculan.
Tentu dengan adanya tv local seperti Banten tv, masyarakat Banten akan ditawarkan siaran berupa hiburan dan berita. Sehingga Banten tv menjadi sarana informasi kepada masyarakat Banten khususnya dengan menggunakan poetnsi- potensi SDM lokal untuk mengembangkan Banten tv.
Resgana Fitra Kumara (061625)
Banten Tv yang merupakan tv lokal masyarakat Propinsi Banten mulai mengudara di tahun 2006. Program- program yang yang ditawarkan adalah program berita, hiburan untuk anak muda, sampai hiburan untuk keluarga. Presentasi siaran Banten tv ke masyarakat adalah bersifat berimbang, antara news dan entertain. Acara- acara Banten tv sendiri belum bisa banyak memproduksi acara- acara sendiri karena terbentur oleh modal yang harus memenuhi BEP (titik impas) pemilik modal.
Dana operasional Banten tv sendiri sebagian besar masih dari pemilik modal, karena iklan- iklan di Banten tv belum banyak bermunculan. Sebab memperoleh iklan untuk dana operasional masih membutuhkan waktu, karena Banten tv merupakan tv lokal yang baru. Sehingga dengan banyaknya iklan, maka ke depan Bnanten tv akan bisa memproduksi acara sendiri.
Berbicar soal kendala maupun kelemahan Banten tv, tentunya masih ada. Misalnya seperti misalnya seperti produksi dari Bnaten tv sendiri yang kurang banyak, kendala modal yang harus memenuhi BEP (titik impas) dan kelemahan yang menjadi pembicaraan seperti siaran Banten tv yang sering mengganggu siaran tv nasional ke daerah Banten, karena tv nasional terbentur pemancar Banten tv bertransmisi 10.000 watt. Sehingga dengan adanya hal ini, masyarakat seringkali dikeluhkan dengan tergganggunya siaran tv nasional. Di lain hal, jangkauan tv (Banten tv) berpengaruh juga pada iklan di tv lokal. Sehingga wajarlah jika iklan- iklan di Banten tv belim banyak bermunculan.
Tentu dengan adanya tv local seperti Banten tv, masyarakat Banten akan ditawarkan siaran berupa hiburan dan berita. Sehingga Banten tv menjadi sarana informasi kepada masyarakat Banten khususnya dengan menggunakan poetnsi- potensi SDM lokal untuk mengembangkan Banten tv.
Resgana Fitra Kumara (061625)
Senin, 15 Desember 2008
KONVERGENSI TEKNOLOGI
NAMA : RESGANA FITRA KUMARA (061625)
PERTEKOM (KONVERGENSI TEKNOLOGI)
Telepon Internet
Loncatan Tinggi Konvergensi Teknologi
Kemajuan teknologi telekomunikasi beserta sistem jaringannya memang mengubah paradigma penting cara kita berkomunikasi. Sebagai pengguna awam teknologi, tidak penting apakah sambungan telepon jarak jauh maupun internasional itu menggunakan teknologi Voice over Internet Protocol atau menggunakan teknologi nirkabel, konsumen telekomunikasi akan selalu mencari alternatif termurah untuk menekan biaya percakapan teleponnya. Dan di sisi lain, perusahaan telekomunikasi sudah harus berbenah diri secepat mungkin agar tidak menjadi korban teknologi komunikasi informasi itu sendiri. Persoalannya, biaya telekomunikasi di Indonesia untuk berbagai keperluan baik di dalam kota, antarkota, dan internasional maupun seluler masih sangat mahal dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia. Sementara para operator telekomunikasi incumbent, karena paling besar sering kali tidak menyadari bahwa konvergensi teknologi bukan hanya dimaksudkan sebagai kemampuan bertemunya mesin dengan mesin, tetapi juga memiliki nuansa pertemuan antara orang dan orang. Karena tidak ada yang bisa memperkirakan kemajuan teknologi seperti apa yang akan dihadapi dalam kurun waktu 3 bulan atau 1 tahun ke depan. Salah satu kemajuan teknologi yang sangat "ditakuti" oleh para operator incumbent, khususnya PT Telkom, adalah perkembangan teknologi Voice over Internet Protocol (VoIP). Kehadiran teknologi VoIP membawa perubahan penting dan berakhirnya dominasi yang dikenal sebagai SLI dan SLJJ. Ketika teknologi bagi disebut sebagai VoIP Merdeka yang dikembangkan komunitas di Indonesia dipelopori oleh Dr Onno W Purbo, incumbent dengan mudah berlindung di balik regulator dan perundangan telekomunikasi. Begitu juga dengan munculnya aplikasi VoIP seperti Skype (www.skype.com), semua mengira penggunaan teknologi ini hanya bisa digunakan dibalik komputer saja. Padahal, ketika kita berbicara soal konvergensi, para insinyur di berbagai perusahaan teknologi komunikasi informasi berupaya keras untuk mencangkokkan kemudahan dan kemurahan yang ditawarkan dalam pembicaraan jarak jauh dengan kualitas suara yang semakin sempurna. Hasilnya, Motorola mengumumkan untuk mencangkokkan berbagai ponselnya dengan aplikasi Skype.
Tidak berbatas Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi informasi ini seperti langit, tidak memiliki batas. Dan semangat ini dicerminkan Siemen asal Jerman yang memperkenalkan sistem DECT (Digital Enhanced Cordless Telephone) terbarunya, Gigaset S430, sebagai telepon nirkabel dalam ruangan. Berbeda dengan sistem DECT ketika pertama kali diperkenalkan di pasaran (lihat Kompas 25/1/2002), Gigaset S430 ini tampil dengan monitor berwarna dan memiliki fitur tambahan yang tidak tersedia pada perangkat sebelumnya. Gigaset S430 memiliki fitur SMS, serta dari kejauhan perangkat teleponi nirkabel ini seperti sebuah ponsel layaknya. Desainnya sendiri juga sangat menarik, berwarna abu-abu dengan tombol-tombol yang futuristik dan memudahkan penggunanya. Yang menarik dan bukti konvergensi tanpa batas ini adalah ketika Gigaset S430 berhubungan dengan perangkat Gigaset M34 USB yang dihubungkan ke komputer, dan S430 memiliki fitur teleponi internet menggunakan aplikasi Skype. Kalau selama ini para pengguna Skype harus memakai mikrofon dan headphone untuk menjalankan aplikasi Skype di komputer, melalui perangkat M34 USB percakapan Skype sekarang bisa digunakan pada Gigaset S430. Adaptor USB (Universal Serial Bus) buatan Siemens ini memungkinkan untuk melakukan percakapan teleponi internet menggunakan Skype memanggil pengguna Skype lainnya atau panggilan SkypeOut yang memungkinkan melakukan panggilan teleponi ke jaringan tradisional. Kualitas suara yang dihasilkan dalam menggunakan Gigaset S430 ini seperti kualitas suara ponsel seluler ketika menggunakan panggilan Skype. Yang menyenangkan dari penggunaan perangkat buatan Siemens ini adalah instalasinya yang sederhana, dan biaya teleponi yang murah ketika melakukan pembicaraan jarak jauh maupun internasional.
Suara nirkabel
Perangkat lain yang juga menghadirkan nuansa baru dalam teleponi internet adalah Prestige 2000W buatan ZyXEL Communications Corp asal Taiwan. Secara desain, Prestige 2000W (foto-foto kiri) mirip telepon nirkabel yang menggunakan jaringan telepon rumah. Teleponi internet buatan ZyXEL ini memanfaatkan teknologi nirkabel 802.11b dengan kecepatan transfer data sampai 11 Mbps. Prosedur penggunaannya pun mudah, dimulai dengan memindai perangkat access point yang terhubung ke dalam sistem jaringan, menentukan alamat Internet Protocol (IP), menetapkan SIP (Session Initiation Protocol) yang mengatur protokol sinyal ketika terjadi pembicaraan, dan menetapkan nomor perangkat untuk identifikasi panggilan (seperti 100, 101, 102, dan seterusnya). Perangkat ini memiliki tiga pilihan agar bisa menjalankan fungsi telepon internet, melalui IP tetap, melalui protokol dinamis DHCP (Dynamic Host Control Protocol), serta melalui koneksi dial-up PPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet). Memang untuk instalasi perangkat Prestige 2000W ini harus dilakukan oleh mereka yang mengerti sistem jaringan, dan menjadi tidak mudah untuk orang awam walaupun sudah mengikuti buku petunjuk. Namun, setelah semua protokol terpasang secara benar, pembicaraan teleponi internet menjadi menyenangkan dan bebas pulsa selama 240 menit, waktu bicara yang dimungkinkan dengan daya tahan baterai perangkat ini. Menggunakan tampilan LCD monochrome, Prestige 2000W juga memiliki fitur yang mirip sebuah ponsel, seperti penguncian tombol (keylock), serta kemampuan untuk bergetar pada saat ada panggilan masuk. Fitur lainnya, perangkat ini juga bisa berfungsi sebagai interkom, memungkinkan pemanggilan perangkat sejenis yang berada dalam satu sistem jaringan. Salah satu kendala perangkat ini kalau digunakan untuk jarak jauh melintas beberapa sistem jaringan, perlu membuat sistem server gateway sendiri menggantikan posisi IP Telephony Service Provider yang tidak banyak tersedia di Indonesia. Namun, kalau Prestige 2000W digunakan oleh perusahaan yang memiliki kantor perwakilan tersebar di mana- mana, produk buatan ZyXEL ini menjadi solusi penghematan telekomunikasi penting untuk dipertimbangkan.
Loncatan jauh
Telepon internet baik berupa aplikasi dalam komputer maupun perangkat keras yang berdiri sendiri akan menjadi tren penting mengawali perubahan telekomunikasi jarak jauh murah yang pasti tidak akan mudah diikuti para incumbent. Penggelaran akses kecepatan tinggi seperti fasilitas broadband dengan sendirinya juga akan mendorong pertumbuhan teleponi internet. Pengguna teleponi internet akan menikmati harga rata (flat rate) jasa koneksi internet, dan tidak lagi berhadapan dengan struktur harga telekomunikasi hierarki yang diterapkan incumbent. Beberapa tahun lalu (bahkan sampai sekarang) masih ada anggapan bahwa sistem telepon umum yang dikenal akan tetap berjaya, dan akan sulit untuk memasuki pasaran. Ketika teknologi VoIP Merdeka diperkenalkan, muncul kekhawatiran incumbent yang segera berlindung di balik pembuat regulasi membatasi jasa teleponi internet hanya diberikan kepada lima perusahaan saja, di antaranya dua perusahaan yang tidak dikenal berpengalaman di bidang telekomunikasi. Kehadiran perangkat teleponi internet seperti Gigaset S430 dilengkapi dengan M34 USB serta ZyXEL Prestige 2000W merupakan sebuah loncatan penting dalam kemajuan konvergensi teknologi komunikasi informasi. Bahkan, sebuah loncatan yang mampu melampaui para pembuat peraturan dan para operator incumbent.
Sumber : www2.kompas.com
PERTEKOM (KONVERGENSI TEKNOLOGI)
Telepon Internet
Loncatan Tinggi Konvergensi Teknologi
Kemajuan teknologi telekomunikasi beserta sistem jaringannya memang mengubah paradigma penting cara kita berkomunikasi. Sebagai pengguna awam teknologi, tidak penting apakah sambungan telepon jarak jauh maupun internasional itu menggunakan teknologi Voice over Internet Protocol atau menggunakan teknologi nirkabel, konsumen telekomunikasi akan selalu mencari alternatif termurah untuk menekan biaya percakapan teleponnya. Dan di sisi lain, perusahaan telekomunikasi sudah harus berbenah diri secepat mungkin agar tidak menjadi korban teknologi komunikasi informasi itu sendiri. Persoalannya, biaya telekomunikasi di Indonesia untuk berbagai keperluan baik di dalam kota, antarkota, dan internasional maupun seluler masih sangat mahal dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia. Sementara para operator telekomunikasi incumbent, karena paling besar sering kali tidak menyadari bahwa konvergensi teknologi bukan hanya dimaksudkan sebagai kemampuan bertemunya mesin dengan mesin, tetapi juga memiliki nuansa pertemuan antara orang dan orang. Karena tidak ada yang bisa memperkirakan kemajuan teknologi seperti apa yang akan dihadapi dalam kurun waktu 3 bulan atau 1 tahun ke depan. Salah satu kemajuan teknologi yang sangat "ditakuti" oleh para operator incumbent, khususnya PT Telkom, adalah perkembangan teknologi Voice over Internet Protocol (VoIP). Kehadiran teknologi VoIP membawa perubahan penting dan berakhirnya dominasi yang dikenal sebagai SLI dan SLJJ. Ketika teknologi bagi disebut sebagai VoIP Merdeka yang dikembangkan komunitas di Indonesia dipelopori oleh Dr Onno W Purbo, incumbent dengan mudah berlindung di balik regulator dan perundangan telekomunikasi. Begitu juga dengan munculnya aplikasi VoIP seperti Skype (www.skype.com), semua mengira penggunaan teknologi ini hanya bisa digunakan dibalik komputer saja. Padahal, ketika kita berbicara soal konvergensi, para insinyur di berbagai perusahaan teknologi komunikasi informasi berupaya keras untuk mencangkokkan kemudahan dan kemurahan yang ditawarkan dalam pembicaraan jarak jauh dengan kualitas suara yang semakin sempurna. Hasilnya, Motorola mengumumkan untuk mencangkokkan berbagai ponselnya dengan aplikasi Skype.
Tidak berbatas Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi informasi ini seperti langit, tidak memiliki batas. Dan semangat ini dicerminkan Siemen asal Jerman yang memperkenalkan sistem DECT (Digital Enhanced Cordless Telephone) terbarunya, Gigaset S430, sebagai telepon nirkabel dalam ruangan. Berbeda dengan sistem DECT ketika pertama kali diperkenalkan di pasaran (lihat Kompas 25/1/2002), Gigaset S430 ini tampil dengan monitor berwarna dan memiliki fitur tambahan yang tidak tersedia pada perangkat sebelumnya. Gigaset S430 memiliki fitur SMS, serta dari kejauhan perangkat teleponi nirkabel ini seperti sebuah ponsel layaknya. Desainnya sendiri juga sangat menarik, berwarna abu-abu dengan tombol-tombol yang futuristik dan memudahkan penggunanya. Yang menarik dan bukti konvergensi tanpa batas ini adalah ketika Gigaset S430 berhubungan dengan perangkat Gigaset M34 USB yang dihubungkan ke komputer, dan S430 memiliki fitur teleponi internet menggunakan aplikasi Skype. Kalau selama ini para pengguna Skype harus memakai mikrofon dan headphone untuk menjalankan aplikasi Skype di komputer, melalui perangkat M34 USB percakapan Skype sekarang bisa digunakan pada Gigaset S430. Adaptor USB (Universal Serial Bus) buatan Siemens ini memungkinkan untuk melakukan percakapan teleponi internet menggunakan Skype memanggil pengguna Skype lainnya atau panggilan SkypeOut yang memungkinkan melakukan panggilan teleponi ke jaringan tradisional. Kualitas suara yang dihasilkan dalam menggunakan Gigaset S430 ini seperti kualitas suara ponsel seluler ketika menggunakan panggilan Skype. Yang menyenangkan dari penggunaan perangkat buatan Siemens ini adalah instalasinya yang sederhana, dan biaya teleponi yang murah ketika melakukan pembicaraan jarak jauh maupun internasional.
Suara nirkabel
Perangkat lain yang juga menghadirkan nuansa baru dalam teleponi internet adalah Prestige 2000W buatan ZyXEL Communications Corp asal Taiwan. Secara desain, Prestige 2000W (foto-foto kiri) mirip telepon nirkabel yang menggunakan jaringan telepon rumah. Teleponi internet buatan ZyXEL ini memanfaatkan teknologi nirkabel 802.11b dengan kecepatan transfer data sampai 11 Mbps. Prosedur penggunaannya pun mudah, dimulai dengan memindai perangkat access point yang terhubung ke dalam sistem jaringan, menentukan alamat Internet Protocol (IP), menetapkan SIP (Session Initiation Protocol) yang mengatur protokol sinyal ketika terjadi pembicaraan, dan menetapkan nomor perangkat untuk identifikasi panggilan (seperti 100, 101, 102, dan seterusnya). Perangkat ini memiliki tiga pilihan agar bisa menjalankan fungsi telepon internet, melalui IP tetap, melalui protokol dinamis DHCP (Dynamic Host Control Protocol), serta melalui koneksi dial-up PPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet). Memang untuk instalasi perangkat Prestige 2000W ini harus dilakukan oleh mereka yang mengerti sistem jaringan, dan menjadi tidak mudah untuk orang awam walaupun sudah mengikuti buku petunjuk. Namun, setelah semua protokol terpasang secara benar, pembicaraan teleponi internet menjadi menyenangkan dan bebas pulsa selama 240 menit, waktu bicara yang dimungkinkan dengan daya tahan baterai perangkat ini. Menggunakan tampilan LCD monochrome, Prestige 2000W juga memiliki fitur yang mirip sebuah ponsel, seperti penguncian tombol (keylock), serta kemampuan untuk bergetar pada saat ada panggilan masuk. Fitur lainnya, perangkat ini juga bisa berfungsi sebagai interkom, memungkinkan pemanggilan perangkat sejenis yang berada dalam satu sistem jaringan. Salah satu kendala perangkat ini kalau digunakan untuk jarak jauh melintas beberapa sistem jaringan, perlu membuat sistem server gateway sendiri menggantikan posisi IP Telephony Service Provider yang tidak banyak tersedia di Indonesia. Namun, kalau Prestige 2000W digunakan oleh perusahaan yang memiliki kantor perwakilan tersebar di mana- mana, produk buatan ZyXEL ini menjadi solusi penghematan telekomunikasi penting untuk dipertimbangkan.
Loncatan jauh
Telepon internet baik berupa aplikasi dalam komputer maupun perangkat keras yang berdiri sendiri akan menjadi tren penting mengawali perubahan telekomunikasi jarak jauh murah yang pasti tidak akan mudah diikuti para incumbent. Penggelaran akses kecepatan tinggi seperti fasilitas broadband dengan sendirinya juga akan mendorong pertumbuhan teleponi internet. Pengguna teleponi internet akan menikmati harga rata (flat rate) jasa koneksi internet, dan tidak lagi berhadapan dengan struktur harga telekomunikasi hierarki yang diterapkan incumbent. Beberapa tahun lalu (bahkan sampai sekarang) masih ada anggapan bahwa sistem telepon umum yang dikenal akan tetap berjaya, dan akan sulit untuk memasuki pasaran. Ketika teknologi VoIP Merdeka diperkenalkan, muncul kekhawatiran incumbent yang segera berlindung di balik pembuat regulasi membatasi jasa teleponi internet hanya diberikan kepada lima perusahaan saja, di antaranya dua perusahaan yang tidak dikenal berpengalaman di bidang telekomunikasi. Kehadiran perangkat teleponi internet seperti Gigaset S430 dilengkapi dengan M34 USB serta ZyXEL Prestige 2000W merupakan sebuah loncatan penting dalam kemajuan konvergensi teknologi komunikasi informasi. Bahkan, sebuah loncatan yang mampu melampaui para pembuat peraturan dan para operator incumbent.
Sumber : www2.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)