Menyibak Aspek Budaya dalam Teknologi
Saat ini masyarakat menghadapi era teknologi dimana kehidupan manusia hampir seluruhnya tergantung pada alat yang memudahkan kinerja mereka. Internet, reactor nuklir, traktor merupakan sebagian kecil dari sekian banyak hasil teknologi di muka bumi yang sudah pasti sering kita dengar. Hasil teknologi membantu mengubah pola komunikasi yang mulanya dibatasi oleh ruang dan waktu menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas. Dengan demikian, pada dasarnya teknologi bersifat baik namun pada aplikasinya dapat dipakai untuk menjalankan tujuan baik atau buruk.
Adanya gagasan yang menyatakan bahwa teknologi bersifat amoral, kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, apakah teknologi imparsial dari nilai-nilai budaya?
Jika melihat dari prinsip kerja dan konstruksi dasar mesinnya, maka muncul respon yang positif. Dalam buku dikatakan bahwa, jika angka kematian sangat tinggi, jika penduduk dunia ketakutan dengan senjata nuklir dan jika banyak hewan dan tumbuhan yang punah karena polusi maka jangan salahkan teknologi tetapi salahkan orang-orang yang menyalahgunakannya. Prinsip kerja teknologi sudah barang tentu valid dan tidak dapat dengan mudah dirubah-rubah, apakah teknologi tersebut berdampak baik atau buruk terhadap lingkungan sekitar tergantung pada bagaimana orang-orang mengaplikasikannya.
Namun, jika melihat dari bagaimana teknologi dipakai dalam kehidupan sehari-hari, status yang dibawa oleh pemakai teknologi tersebut, serta kemampuan pemakai dalam menyuplai kebutuhan teknologi tersebut, maka jelas bahwa teknologi tidak imparsial dari nilai-nilai budaya dan aspek humanisme.
Untuk mampu menjelaskan lebih lanjut dan memahami bahwa teknologi tidak hanya menyangkut teknik dan pengetahuan melainkan juga melibatkan nilai-nilai cultural dan organisasi, maka konsep tentang penerapan teknologi perlu diperjelas dengan menjabarkan definisinya.
Dengan menggunakan diagram, Pacey menjabarkan 3 aspek penerapan teknologi, yaitu:
1. Aspek organisasi, meliputi kegiatan perseorangan, institusi, organisasi. Wujud dari aspek ini berupa suatu kebijakan atau policy yang mengatur pemanfaatan teknologi pada masyarakat dimana kebijakan ini dikeluarkan oleh organisasi yang mengatur masyarakat dalam lingkup lebih luas yaitu pemerintah.
2. Aspek teknis, meliputi aspek internal yang dimiliki oleh teknologi, pengetahuan, keahlian, teknik. Misalnya dari spesifikasi, fitur, perangkat keras maupun lunak, compatibility, inovasi, dll yang dimiliki oleh teknologi tertentu.
3. Aspek budaya, meliputi tujuan, perilaku, tata nilai, norma, etika, kepercayaan yang melekat di masyarakat yang menggunakan teknologi. Aspek terakhir inilah yang paling abstrak dibandingkan dengan dua aspek sebelumnya karena faktor-faktor yang mempengaruhi budaya ini sangat kompleks.
Selama ini, masyarakat menggunakan teknologi dalam konsep yang sangat luas namun dengan makna yang kadang sangat terbatas. Apabila teknologi diterapkan dalam konteks yang terbatas dimana teknologi hanya dianggap sebagai hal yang menyangkut teknis, mekanis dan pengetahuan, maka nilai-nilai budaya dan organisasi akan menjadi factor eksternal dan dikesampingkan. Namun, jika diterapkan dalam konteks yang lebih luas maka teknologi dikatakan imparsial karena memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung pada nilai-nilai budaya, tradisi dan lingkungan. Dari uraian di atas, jelas bahwa nilai-nilai budaya menjadi factor penentu teknologi apa yang akan dipilih serta dampak atau perubahan yang akan dialami oleh budaya tersebut.
Mendefinisikan teknologi yang semata-mata hanya meliputi aspek teknis menimbulkan masalah di masyarakat, mereka cenderung mengabaikan peran organisasi, bahkan mengabaikan peran ide, nilai, dan kepercayaan. Oleh karena itulah, dengan dukungan dari ketiga elemen yaitu organisasi, teknis, budaya kehadiran teknologi sesungguhnya dapat diimplementasikan lebih efektif di masyarakat.
Dengan demikian, dari uraian diatas dapat diambil definisi bahwa penerapan teknologi adalah penerapan sains dan ilmu pengetahuan lain ke dalam praktek di kehidupan sehari-hari oleh sistem sosial yang melibatkan masyarakat dan organisasi, makhluk hidup dan mesin.
Hingga saat ini teknologi seringkali dibuat tanpa mempertimbangkan aspek-aspek budaya, padahal sudah seharusnya sebuah teknologi didisain sesuai dengan pola aktifitas masyarakat yang memiliki gaya hidup dan nilai-nilai budaya tertentu. Dari sini jelas bahwa aspek budaya seringkali diabaikan. Sebuah teknologi yang diperuntukkan bagi sebuah komunitas dengan nilai dan budaya tertentu, membutuhkan usaha-usaha yang tidak mudah agar dapat juga diterapkan pada komunitas yang lain.
Banyak teknologi yang pada akhirnya gagal diterapkan pada masyarakat dengan nilai, kepercayaan dan norma tertentu. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan cara pandang tentang hal yang akan dimudahkan dengan adanya teknologi tersebut, selain itu keahlian serta apresiasi terhadap teknologi juga berpengaruh terhadap kegagalan tersebut. Penghargaan/apresiasi terhadap penerapan teknologi sangatlah penting karena terobosan baru dari sebuah teknologi dapat muncul apabila ada kesatuan tata usaha, perawatan, dan disain teknik.
Sementara itu dari sisi teknokratnya, para ahli ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung hanya dididik mengenai prinsip-prinsip teknologi secara umum jika diterapkan dalam situasi kondisi yang general. Mereka umumnya tidak dibekali dengan pengetahuan yang matang untuk menghadapi situasi yang spesifik. Mereka mungkin peduli dengan masalah-masalah social yang akan dihadapi ketika sebuah teknologi diterapkan dalam masyarakat tertentu, namun seringkali mereka tidak yakin apakah tindakan yang akan diambil akan dapat mengatasi masalah.
Aspek cultural memang merupakan satu-satunya factor yang mempengaruhi teknologi yang bersifat abstrak dan tersembunyi. Seringkali inti permasalahan yang menyangkut nilai, norma, kepercayaan tertutupi oleh masalah-masalah perawatan (maintenance), kebijakan pemerintah ataupun aspek teknis. Sehingga terkadang, ilmuwan harus lebih sering untuk terjun ke lapangan untuk melihat secara langsung aspek-aspek cultural yang ada dalam bentuk kasus nyata penerapan teknologi tertentu di masyarakat, dan dari sanalah sesungguhnya insight untuk pemecahan masalah ataupun pembuatan teknologi baru diperoleh.
Sementara itu, masyarakat awam masih cenderung mengaitkan teknologi dengan alat daripada mengkaitkannya dengan sejumlah aktivitas manusia membuat masyarakat sulit untuk diajak berpikir mengenai konteks teknologi yang lebih luas yaitu perkembangannya terkait dengan aspek budaya. Pemikiran demikan disebut dengan interpretasi linear dimana masyarakat beranggapan teknologi hanya menyangkut masalah teknis. Hal ini akan mendorong masyarakat pada cara berpikir yang terlalu over-selective dimana masyarakat selalu melihat bahwa peningkatan di satu dimensi dari teknologi pasti diikuti oleh penurunan yang kurang memuaskan pada dimensi yang lain.
Interpretasi linear menganggap revolusi industri yang berawal dari ditemukannya mesin uap oleh James Watt adalah revolusi teknik yang membuka sistem ekonomi baru yaitu kapitalisme. Padahal keduanya sama sekali tidak terkait dengan keberadaan teknologi mesin uap karena pabrik-pabrik telah lama ada jauh sebelum mesin uap ditemukan.
Memang pada kenyataannya pabrik-pabrik tersebut tidak akan berkembang pesat tanpa adanya hasil temuan baru tersebut. Namun, jika kita menggali lebih dalam sesungguhnya organisasi kerjalah yang merupakan teknologi yang lebih dahulu ditemukan daripada mesin uap.
Semakin berkembangnya teknologi, tangan manusia digantikan oleh mesin dan hasil-hasil penemuan ilmiah sehingga makin memudahkan manusia, membut aspek organisasi semakin sederhana karena tidak ada pembagian kerja sehingga hanya dibutuhkan sedikit SDM. Mekanisasi ini diupayakan untuk meminimalisir biaya tenaga kerja. Dari sini, muncul pertanyaan, apakah teknologi moderen memikirkan aspek-aspek humanis? teknologi menggantikan tenaga manusia sehingga menimbulkan dampak meningkatnya pengangguran.
Para determinis, memberikan 2 pandangan terkait dengan kemajuan teknologi. Yaitu interpretasi yang dikaitkan dalam konteks yang luas, yaitu aspek organisasi dan interpretasi linear yang diekspresikan dengan grafik yang terus meningkat secara perlahan dan tetap. Namun interpretasi linear ini dapat mendorong orang pada optimisme yang salah dan memandang dengan pesimis dimensi lain dari teknologi karena sesungguhnya kemajuan teknologi tidak hanya dapat diukur dari mesinnya saja pengukurannya akan lebih efektif jika melibatkan operator atau sistem manusia yang mengendalikannya. Penggunaan interpretasi ini dengan menggunakan grafik dipakai untuk mempertahankan bahwa teknologi imparsial.
Daripada menjadi seorang technological determinist yang terus menerus mengembar-gemborkan bagaimana teknologi yang semakin maju mampu mengubah sistem social di masyarakat tentu akan lebih baik mencari tahu bagaimana kemajuan organisasi mampu mendorong munculnya teknologi baru. Dan tentunya akan lebih mudah jika kita melihat sebuah penemuan dengan menggunakan konsep penerapan teknologi dan keseluruhan aspek yang melingkupinya karena dengan demikian inovasi akan dapat dianggap sebagai hasil interaksi dari social, budaya dan teknik.
Dalam perkembangan teknologi di masa depan hal yang paling ditakutkan adalah makin berkurangnya energi di permukaan bumi, dan ada banyak pilihan bagi manusia untuk mencegahnya baik mengembangkan energi nuklir, energi matahari maupun memanfaatkan energi sebaik-baiknya. Dan semua hal ini pasti terkait dengan aspek organisasi yaitu menyangkut kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah.
Pada suatu titik waktu tertentu, ketika ketiga aspek teknologi dapat menjadi satu kesatuan yang harmonis, maka masyarakat akan memiliki kepedulian yang lebih terhadap berbagai keumngkinan yang akan terjadi ketika teknologi diterapkan, termasuk antisipasi serta pilihan tindakan untuk meminimalisir kurangnya energi di bumi akibat penerapan teknologi yang disalahgunakan ataupun dipakai berlebihan. Bahkan pada saat itu akan muncul gerakan inovasi yang akan mendorong pada perkembangan dan kemajuan industri ataupun bidang yang lain.
Teknologi yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini oleh para ilmuwan masih dianggap setengah jalan (halfway) karena masalah yang akan ditangani oleh teknologi hanya dipahami dengan setengah-setengah oleh masyarakat awam. Misalnya, keberadaan pompa air yang ditujukan untuk memudahkan masyarakat local untuk mendapatkan air bersih langsung dari sumbernya. Namun, tanpa adanya penyuluhan atau pemberian informasi bahwa pompa harus selalu dirawat dan dibersihkan agar pompa tidak mudah rusak dan tetap menghasilkan air yang higienis, maka teknologi tidak akan maju bahkan mengalami kemunduran. Setiap kasus yang menyangkut teknologi dalam konteks luas akan selalu berhubungan dengan aspek perilaku invidu dan aspek-aspek budaya seperti kebiasaan hidup dan tata nilai, oleh karena itu diperlukan kearifan para ilmuwan untuk menciptakan teknologi yang tidak hanya mampu mengatasi masalah yang ada di masyarakat tetapi juga mampu mencegah agar masalah tersebut jangan sampai terjadi.
Namun sering kali ilmuwan terlalu berlebihan dalam memprediksi kegunaan suatu teknologi yang dapat menyebabkan teknologi dalam jangka waktu tertentu diaplikasikan jauh dari kegunaan teknisnya dalam perkembangan dan industri. Misalnya saja pada penemuan energi nuklir yang mulanya hanya untuk mencari energi alternative pengganti barang tambang, ketika ilmuwan memprediksi bahwa teknologi nuklir dapat dipakai sebagai senjata pertahanan Negara, maka meletuslah perang dingin dengan Uni Soviet dimana teknologi nuklir berperan sebagai tombak di belakang konfrontasi antara 2 negara tersebut.
Dalam melihat hal ini, ilmuwan sudah sepantasnya sadar dan bekerja dengan lebih menekankan aspek humanis. Riset dan kontrol dari pemerintah juga sangat diperlukan sehingga mereka dapat mengontrol para ilmuwan untuk menciptakan teknologi yang dapat lebih maju sesuai dengan kegunaannya dalam aplikasi masyarakat sehari-hari tanpa melenceng jauh dan memberikan dampak yang berbahaya bagi kehidupan manusia.
Sumber :
Pacey, Arnold. The Culture of Technology. Cambridge: MIT Press, 1983, 1-54
Last Updated ( Monday, 17 September 2007 )
Mengutip dari : Written by Riska Yuniar Rahmawati Nabhani
Selasa, 04 November 2008
Transportasi informasi melalui kabel serat optik
Kabel Fiber Optik (Serat Optik)
Kabel Serat OptikMedia komunikasi digital pada dasarnya hanya ada tiga, tembaga, udara dan kaca. Tembaga kita kenal sebagai media komunikasi sejak lama, telah berevolusi dari hanya penghantar listrik menjadi penghantar elektromagnetik yang membawa pesan, suara, gambar dan data digital. Berkembangnya teknologi frekuensi radio menambah alternatif lain media komunikasi, kita sebut nirkabel atau wireless, sebuah komunikasi dengan udara sebagai penghantar. Tahun 1980-an kita mulai mengenal media komunikasi yang lain yang sekarang menjadi tulang punggung komunikasi dunia, yaitu serat optik, sebuah media yang memanfaatkan pulsa cahaya dalam sebuah ruang kaca berbentuk kabel, total internal reflection.
Sebuah kabel serat optik dibuat sekecil-kecilnya (mikroskopis) agar tak mudah patah/retak, tentunya dengan perlindungan khusus sehingga besaran wujud kabel akhirnya tetap mudah dipasang. Satu kabel serat optik disebut sebagai core. Untuk satu sambungan/link komunikasi serat optik dibutuhkan dua core, satu sebagai transmitter dan satu lagi sebagai receiver. Variasi kabel yang dijual sangat beragam sesuai kebutuhan, ada kabel 4 core, 6 core, 8 core, 12 core, 16 core, 24 core, 36 core hingga 48 core. Satu core serat optik yang terlihat oleh mata kita adalah masih berupa lapisan pelindungnya (coated), sedangkan kacanya sendiri yang menjadi inti transmisi data berukuran mikroskopis, tak terlihat oleh mata.
Detil core kabel serat optik
Bentuk kabel dikenal dua macam, kabel udara (KU) dan kabel tanah (KT). Kabel udara diperkuat oleh kabel baja untuk keperluan penarikan kabel di atas tiang. Baik KU maupun KT pada lapisan intinya paling tengah diperkuat oleh kabel khusus untuk menahan kabel tidak mudah bengkok (biasanya serat plastik yang keras). Di sekeliling inti tersebut dipasang beberapa selubung yang isinya adalah core serat optik, dilapisi gel (katanya berfungsi juga sebagai racun tikus) dan serat nilon, dibungkus lagi dengan bahan metal tipis hingga ke lapisan terluar kabel berupa plastik tebal. Dari berbagai jenis jumlah core, besaran wujud akhir kabel tidaklah terlalu signifikan ukuran diameternya.
Memotong kabel serat optik sangat mudah, cukup menggunakan gergaji kecil. Sering terjadi maling-maling tembaga salah mencuri, niatnya mencuri kabel tembaga yang laku di pasar besi/loak malah menggergaji kabel serat optik. Yang sulit adalah mengupasnya, namun hal ini dipermudah dengan pabrikan kabel menyertakan serat nilon khusus di bawah lapisan terluar yang keras sehingga cukup dikupas sedikit dan nilon tersebut berfungsi membelah lapisan terluar hingga panjang yang diinginkan untuk dikupas.
Untuk apa dikupas? Tentunya untuk keperluan penyambungan atau terminasi. Kita lihat dulu bagaimana pulsa cahaya bekerja di dalam serat kaca yang sangat sempit ini. Kabel serat optik yang paling umum dikenal dua macam, multi-mode dan single-mode. Transmitter cahaya berupa Light Emitting Diode (LED) atau Injection Laser Diode (ILD) menembakkan pulsa cahaya ke dalam kabel serat optik. Dalam kabel multi-mode pulsa cahaya selain lurus searah panjang kabel juga berpantulan ke dinding core hingga sampai ke tujuan, sisi receiver. Pada kabel single-mode pulsa cahaya ditembakkan hanya lurus searah panjang kabel. Kabel single-mode memberi kelebihan kapasitas bandwidth dan jarak yang lebih tinggi, hingga puluhan kilometer dengan skala bandwidth gigabit.
Pulsa cahaya serat optik multi-modePulsa cahaya serat optik single-mode
Inti kaca kabel single-mode umumnya berdiameter 8,3-10 mikron (jauh lebih kecil dari diameter rambut), dan pada multi-mode berukuran 50-100 mikron. Pulsa cahaya yang ditembakkan pada single mode adalah cahaya dengan panjang gelombang 1310-1550nm, sedangkan pada multi-mode adalah 850-1300nm.
OTB wallmount
OTB rackmount
Ujung kabel serat optik berakhir di sebuah terminasi, untuk hal tersebut dibutuhkan penyambungan kabel serat optik dengan pigtail serat optik di Optical Termination Board (OTB), bisa wallmount atau 1U rackmount. Dari OTB kabel serat optik tinggal disambung dengan patchcord serat optik ke perangkat multiplexer, switch atau bridge (converter to ethernet UTP).
Penyambungan kabel serat optik disebut sebagai splicing. Splicing menggunakan alat khusus yang memadukan dua ujung kabel seukuran rambut secara presisi, dibakar pada suhu tertentu sehingga kaca meleleh tersambung tanpa bagian coated-nya ikut meleleh. Setelah tersambung, bagian sambungan ditutup dengan selubung yang dipanaskan. Alat ini mudah dioperasikan, namun sangat mahal harganya. Inilah sebabnya meskipun harga kabel fiber optik sudah jauh lebih murah namun alat dan biaya lainnya masih mahal, terutama pada biaya pemasangan kabel, splicing dan terminasinya.
Berbagai jenis konektor kabel serat optik
Pigtail yang disambungkan ke kabel optik bisa bermacam-macam konektornya, yang paling umum adalah konektor FC. Dari konektor FC di OTB ini kita tinggal menggunakan patchcord yang sesuai untuk disambungkan ke perangkat. Umumnya perangkat optik seperti switch atau bridge menggunakan konektor SC atau LC. Cukup menyulitkan ketika menyebut jenis konektor yang kita kehendaki kepada penjual, FC, SC, ST, atau LC.
Setelah kabel optik terpasang di OTB dilakukan pengujian end-to-end dengan menggunakan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). Dengan OTDR akan didapatkan kualitas kabel, seberapa besar loss cahaya dan berapa panjang kabel totalnya. Harga perangkat OTDR ini sangat mahal, meskipun pengoperasiannya relatif mudah. OTDR ini digunakan pula pada saat terjadi gangguan putusnya kabel laut atau terestrial antar kota, sehingga bisa ditentukan di titik mana kabel harus diperbaiki dan disambung kembali.
Ada 2 tipe design kabel serat optik :
1. Loose-tube construction (buat instalasi di luar ruangan)
2. Tight buffer construction (buat di dalam gedung)
Kelebihan kabel fiber optic yaitu tidak ada interfensi ke kabel fiber lain. Gak ada gannguan crosstalk seperti pada copper media. Tapi bukan berarti media ini sempuran atau tidak ada gangguannya, kalau instalasinya tidak bener maka akan menimbulkan :
1. Scattering
2. Microbend, Macrobend
Untuk keperluan sederhana misalnya sambungan fiber optik antar gedung pada jarak ratusan meter (hingga 15km) kini teknologi bridge/converter-nya sudah semakin murah dengan kapasitas 100Mbps, sedangkan untuk full gigabit harga switch/module-switch-nya masih mahal. Jadi, meskipun harga kabel serat optik sudah di kisaran Rp10.000/m namun total pemasangannya membengkak karena ada biaya SDM yang menarik dan memasang kabel, biaya splicing setiap core-nya, pemasangan OTB, pengujian OTDR, penyediaan patchcord dan perangkat optiknya sendiri (switch/bridge).
Sumber : http://yulian.firdaus.or.id
Kabel Serat OptikMedia komunikasi digital pada dasarnya hanya ada tiga, tembaga, udara dan kaca. Tembaga kita kenal sebagai media komunikasi sejak lama, telah berevolusi dari hanya penghantar listrik menjadi penghantar elektromagnetik yang membawa pesan, suara, gambar dan data digital. Berkembangnya teknologi frekuensi radio menambah alternatif lain media komunikasi, kita sebut nirkabel atau wireless, sebuah komunikasi dengan udara sebagai penghantar. Tahun 1980-an kita mulai mengenal media komunikasi yang lain yang sekarang menjadi tulang punggung komunikasi dunia, yaitu serat optik, sebuah media yang memanfaatkan pulsa cahaya dalam sebuah ruang kaca berbentuk kabel, total internal reflection.
Sebuah kabel serat optik dibuat sekecil-kecilnya (mikroskopis) agar tak mudah patah/retak, tentunya dengan perlindungan khusus sehingga besaran wujud kabel akhirnya tetap mudah dipasang. Satu kabel serat optik disebut sebagai core. Untuk satu sambungan/link komunikasi serat optik dibutuhkan dua core, satu sebagai transmitter dan satu lagi sebagai receiver. Variasi kabel yang dijual sangat beragam sesuai kebutuhan, ada kabel 4 core, 6 core, 8 core, 12 core, 16 core, 24 core, 36 core hingga 48 core. Satu core serat optik yang terlihat oleh mata kita adalah masih berupa lapisan pelindungnya (coated), sedangkan kacanya sendiri yang menjadi inti transmisi data berukuran mikroskopis, tak terlihat oleh mata.
Detil core kabel serat optik
Bentuk kabel dikenal dua macam, kabel udara (KU) dan kabel tanah (KT). Kabel udara diperkuat oleh kabel baja untuk keperluan penarikan kabel di atas tiang. Baik KU maupun KT pada lapisan intinya paling tengah diperkuat oleh kabel khusus untuk menahan kabel tidak mudah bengkok (biasanya serat plastik yang keras). Di sekeliling inti tersebut dipasang beberapa selubung yang isinya adalah core serat optik, dilapisi gel (katanya berfungsi juga sebagai racun tikus) dan serat nilon, dibungkus lagi dengan bahan metal tipis hingga ke lapisan terluar kabel berupa plastik tebal. Dari berbagai jenis jumlah core, besaran wujud akhir kabel tidaklah terlalu signifikan ukuran diameternya.
Memotong kabel serat optik sangat mudah, cukup menggunakan gergaji kecil. Sering terjadi maling-maling tembaga salah mencuri, niatnya mencuri kabel tembaga yang laku di pasar besi/loak malah menggergaji kabel serat optik. Yang sulit adalah mengupasnya, namun hal ini dipermudah dengan pabrikan kabel menyertakan serat nilon khusus di bawah lapisan terluar yang keras sehingga cukup dikupas sedikit dan nilon tersebut berfungsi membelah lapisan terluar hingga panjang yang diinginkan untuk dikupas.
Untuk apa dikupas? Tentunya untuk keperluan penyambungan atau terminasi. Kita lihat dulu bagaimana pulsa cahaya bekerja di dalam serat kaca yang sangat sempit ini. Kabel serat optik yang paling umum dikenal dua macam, multi-mode dan single-mode. Transmitter cahaya berupa Light Emitting Diode (LED) atau Injection Laser Diode (ILD) menembakkan pulsa cahaya ke dalam kabel serat optik. Dalam kabel multi-mode pulsa cahaya selain lurus searah panjang kabel juga berpantulan ke dinding core hingga sampai ke tujuan, sisi receiver. Pada kabel single-mode pulsa cahaya ditembakkan hanya lurus searah panjang kabel. Kabel single-mode memberi kelebihan kapasitas bandwidth dan jarak yang lebih tinggi, hingga puluhan kilometer dengan skala bandwidth gigabit.
Pulsa cahaya serat optik multi-modePulsa cahaya serat optik single-mode
Inti kaca kabel single-mode umumnya berdiameter 8,3-10 mikron (jauh lebih kecil dari diameter rambut), dan pada multi-mode berukuran 50-100 mikron. Pulsa cahaya yang ditembakkan pada single mode adalah cahaya dengan panjang gelombang 1310-1550nm, sedangkan pada multi-mode adalah 850-1300nm.
OTB wallmount
OTB rackmount
Ujung kabel serat optik berakhir di sebuah terminasi, untuk hal tersebut dibutuhkan penyambungan kabel serat optik dengan pigtail serat optik di Optical Termination Board (OTB), bisa wallmount atau 1U rackmount. Dari OTB kabel serat optik tinggal disambung dengan patchcord serat optik ke perangkat multiplexer, switch atau bridge (converter to ethernet UTP).
Penyambungan kabel serat optik disebut sebagai splicing. Splicing menggunakan alat khusus yang memadukan dua ujung kabel seukuran rambut secara presisi, dibakar pada suhu tertentu sehingga kaca meleleh tersambung tanpa bagian coated-nya ikut meleleh. Setelah tersambung, bagian sambungan ditutup dengan selubung yang dipanaskan. Alat ini mudah dioperasikan, namun sangat mahal harganya. Inilah sebabnya meskipun harga kabel fiber optik sudah jauh lebih murah namun alat dan biaya lainnya masih mahal, terutama pada biaya pemasangan kabel, splicing dan terminasinya.
Berbagai jenis konektor kabel serat optik
Pigtail yang disambungkan ke kabel optik bisa bermacam-macam konektornya, yang paling umum adalah konektor FC. Dari konektor FC di OTB ini kita tinggal menggunakan patchcord yang sesuai untuk disambungkan ke perangkat. Umumnya perangkat optik seperti switch atau bridge menggunakan konektor SC atau LC. Cukup menyulitkan ketika menyebut jenis konektor yang kita kehendaki kepada penjual, FC, SC, ST, atau LC.
Setelah kabel optik terpasang di OTB dilakukan pengujian end-to-end dengan menggunakan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). Dengan OTDR akan didapatkan kualitas kabel, seberapa besar loss cahaya dan berapa panjang kabel totalnya. Harga perangkat OTDR ini sangat mahal, meskipun pengoperasiannya relatif mudah. OTDR ini digunakan pula pada saat terjadi gangguan putusnya kabel laut atau terestrial antar kota, sehingga bisa ditentukan di titik mana kabel harus diperbaiki dan disambung kembali.
Ada 2 tipe design kabel serat optik :
1. Loose-tube construction (buat instalasi di luar ruangan)
2. Tight buffer construction (buat di dalam gedung)
Kelebihan kabel fiber optic yaitu tidak ada interfensi ke kabel fiber lain. Gak ada gannguan crosstalk seperti pada copper media. Tapi bukan berarti media ini sempuran atau tidak ada gangguannya, kalau instalasinya tidak bener maka akan menimbulkan :
1. Scattering
2. Microbend, Macrobend
Untuk keperluan sederhana misalnya sambungan fiber optik antar gedung pada jarak ratusan meter (hingga 15km) kini teknologi bridge/converter-nya sudah semakin murah dengan kapasitas 100Mbps, sedangkan untuk full gigabit harga switch/module-switch-nya masih mahal. Jadi, meskipun harga kabel serat optik sudah di kisaran Rp10.000/m namun total pemasangannya membengkak karena ada biaya SDM yang menarik dan memasang kabel, biaya splicing setiap core-nya, pemasangan OTB, pengujian OTDR, penyediaan patchcord dan perangkat optiknya sendiri (switch/bridge).
Sumber : http://yulian.firdaus.or.id
Internet dan Website
Internet ke Interkoloni
Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.
Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.
Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.
Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.
Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini.
Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)
Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.
Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."
Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.
Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)
Sumber : http://www.harunyahya.com
Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.
Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.
Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.
Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.
Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini.
Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)
Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.
Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."
Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.
Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)
Sumber : http://www.harunyahya.com
ARTIKEL PERTEKOM
Perkembangan Teknologi Komunikasi
Penggunaan tekn0logi komunikasi saat ini bisa dikatakan sbagai kbutuhan bagian dari gaya hdup.Penggunaan tkn0lngi komunikasi sprti hp&imtrnet tdak trbatas lagi pd profesional semata,tetapi telah mencakup ke berbagai bidang-bidang lain.Teknologi komunikasi saat ini juga tidak hanya trbatas pada usia dan kalangan trtentu,tetapi smua usia,sprti usia skolah.Tingkat partisipasif dan amtusiasme masyarakat pd tkn0logi komunikasi yg ada saat ini mulai menunjukkan kesadaran akan pnggunaan teknol0gi komunikasi.Dimana masyarakat menggunakan tekn0logi komunikasi utk mendapatkan ssuatu yg brhubungan dgn k0munikasinya.Shingga bs dikatakan dgn adanya kmjuan teknologi komunikasi,masyarakat bs mendapatkan inf0rmasi scara cpat dan mudah dgn tekn0l0gi sbg medianya.
Pnggunaan tekn0l0gi k0munikasi saat ini hmpir digunakan disemua aspek.Kita bs ambl c0nt0h sk0lah-sk0lah yg kini telah memberlakukan mata pelajaran tekn0l0gi inf0rmasi sbg mata pelajaran yg wajib diikuti oleh para siswa.Slain itu,masyarakat yg btuh akan inf0rmasi,bisa mengakses langsung melalui fasilitas internet,karena di internet pun memiliki jutaan bahkan milyaran informasi
Dari semua itu bisa kita simpulkan bahwa penggunaan teknologi komunikasi telah menjadi bagian budaya dari masyarakat kita,sehingga terbentuklah budaya kesadaran akan teknologi komunikasi itu,kita pun tidak bisa menutup mata akan adanya kemajuan teknologi komunikasi itu,kitapun tidak bs mnutup mata akan adanya dampak p0sitif maupun negatif.dampak p0sitifny sndiri bs kita rasakan,dimana kita mendapatkn ssuatu inf0rmasi scara instan.
Penggunaan tekn0logi komunikasi saat ini bisa dikatakan sbagai kbutuhan bagian dari gaya hdup.Penggunaan tkn0lngi komunikasi sprti hp&imtrnet tdak trbatas lagi pd profesional semata,tetapi telah mencakup ke berbagai bidang-bidang lain.Teknologi komunikasi saat ini juga tidak hanya trbatas pada usia dan kalangan trtentu,tetapi smua usia,sprti usia skolah.Tingkat partisipasif dan amtusiasme masyarakat pd tkn0logi komunikasi yg ada saat ini mulai menunjukkan kesadaran akan pnggunaan teknol0gi komunikasi.Dimana masyarakat menggunakan tekn0logi komunikasi utk mendapatkan ssuatu yg brhubungan dgn k0munikasinya.Shingga bs dikatakan dgn adanya kmjuan teknologi komunikasi,masyarakat bs mendapatkan inf0rmasi scara cpat dan mudah dgn tekn0l0gi sbg medianya.
Pnggunaan tekn0l0gi k0munikasi saat ini hmpir digunakan disemua aspek.Kita bs ambl c0nt0h sk0lah-sk0lah yg kini telah memberlakukan mata pelajaran tekn0l0gi inf0rmasi sbg mata pelajaran yg wajib diikuti oleh para siswa.Slain itu,masyarakat yg btuh akan inf0rmasi,bisa mengakses langsung melalui fasilitas internet,karena di internet pun memiliki jutaan bahkan milyaran informasi
Dari semua itu bisa kita simpulkan bahwa penggunaan teknologi komunikasi telah menjadi bagian budaya dari masyarakat kita,sehingga terbentuklah budaya kesadaran akan teknologi komunikasi itu,kita pun tidak bisa menutup mata akan adanya kemajuan teknologi komunikasi itu,kitapun tidak bs mnutup mata akan adanya dampak p0sitif maupun negatif.dampak p0sitifny sndiri bs kita rasakan,dimana kita mendapatkn ssuatu inf0rmasi scara instan.
Langganan:
Postingan (Atom)