Selasa, 30 Desember 2008

PONSEL SEBAGAI TEKNOLOGI BUDAYA DAN BUDAYA TEKNOLOGI

DERING PONSEL DI DAERAH TERTINGGAL
Keberadaan teknologi komunikasi selular akhirnya mengubah pola komunikasi masyarakat pedalaman, yang secara sosial sering disebut daerah tertinggal. Padahal puluhan tahun lalu, sebelum ada teknologi komunikasi, sistem komunikasi yang berkembang di daerah-daerah tersebut masih memakai saluran sederhana. Komunikasi tatap muka menjadi sarana komunikasi utama masyarakat. Sedangkan komunikasi menggunakan alat masih dilakukan dengan kentongan, atau paling canggih dengan bantuan speaker. Keberadaan jaringan ponsel sebagai saluran komunikasi dapat mempercepat proses menyampaikan pesan-pesan (message) kepada penerima (receiver) dari individu yang satu kepada individu lainnya. Saluran komunikasi selular saat ini dianggap sebagai saluran yang efektif dalam komunikasi antarpribadi. Hal ini kemudian membawa perubahan bagi interaksi sosial dan interaksi ekonomi pada masyarakat di daerah tertinggal yang sebelumnya masih bersifat tradisional.
Sulitnya Berkomunikasi di Daerah Terpencil
Di lokasi transmigrasi yang sebagian besar berada di daerah terpencil, alat komunikasi merupakan sesuatu yang mahal. Ketika masyarakat kota bisa berkomunikasi melalui telepon, mereka masih menggunakan surat dan telegram. Sampai akhir tahun 1990-an, untuk bisa bercakap-cakap melalui telepon dengan kerabat di pulau Jawa harus menempuh perjalanan dua sampai tiga jam. Hal ini menyebabkan terlambatnya penyampaian informasi dan berita keluarga ke masyarakat. Kondisi ini menyebabkan terlambatnya proses pembangunan karena keterbatasan pemilikan alat komunikasi dan minimnya akses terhadap sumber informasi. Sulitnya berkomunikasi dengan masyarakat di daerah lain menyebabkan terhambatnya penyebaran informasi. Sehingga penduduk pedalaman hanya berkutat dengan interaksi komunikasi di lingkungan sekitar. Padahal di perkotaan perkembangan informasi sudah demikian pesat dan selalu berubah. Kemudian setelah berkembangnya era telepon satelit, lambat laun jarak untuk dapat berkomunikasi lewat telepon tidak menjadi masalah. Beberapa orang mulai berlangganan telepon satelit untuk pribadi ataupun komersial. Namun harga komunikasi dengan telepon satelit masih sangat tinggi, sehingga tidak semua orang bisa menggunakannya. Bayangkan, untuk menelepon beberapa menit saja harus mengeluarkan biaya sampai ratusan ribu rupiah. Keberadaan telepon satelit ternyata belum memberikan perubahan berarti dari pemanfaatan teknologi komunikasi bagi masyarakat pedalaman. Apalagi kondisi infrastruktur, seperti jalan raya dan listrik belum mendukung perubahan. Sehingga beberapa orang yang sebelumnya berlangganan telepon satelit satu persatu mulai berhenti karena mahalnya biaya dan kualitas jaringan yang buruk. Sebab tingginya biaya operasional belum bisa menjamin kepuasan berkomunikasi. Suara yang dihasilkan telepon satelit tersebut sering putus-putus, terdengar tidak jelas dan sinyalnya juga hilang timbul. Dengan kondisi seperti itu, masyarakat belum mendapat kepuasan penggunaan teknologi komunikasi. Itulah gambaran kondisi komunikasi daerah tertinggal sebelum ada jaringan ponsel.
Teknologi Selular Merubah Segalanya
Kehadiran telepon selular dalam kehidupan masyarakat transmigrasi dan pedalaman lainnya, merupakan suatu kemajuan dalam bidang komunikasi. Meskipun datangnya terlambat tetapi teknologi selular menjadi teknologi komunikasi paling modern yang ekonomis dan menjanjikan kualitas. Salah satu kelebihan utama ponsel yaitu sifatnya yang mobile dan memberikan keleluasaan berkomunikasi tanpa sekat ruang dan waktu selama masih ada jaringan operator. Revolusi komunikasi pedalaman tersebut dimulai awal tahun 2000-an. Namun operator ponsel masih memasang tower jaringan di daerah sekitar jalan raya yang jaraknya lebih 10 kilometer dari lokasi transmigrasi terdekat. Sehingga untuk mendapatkan sinyal pengguna perlu bantuan antena luar (outdoor antenna) setinggi 8 – 15 meter. Itupun masih terdapat noise (gangguan) dalam berkomunikasi seperti sinyal putus-putus dan suara yang tidak jelas. Namun setidaknya kehadiran operator ponsel memberikan sinyal positif bagi perkembangan teknologi komunikasi di daerah transmigrasi. Baru kemudian sekitar awal tahun 2006 saat para operator ponsel ekspansi ke daerah-daerah terpencil, salah satu operator memasang tower jaringan di perkampungan transmigrasi tersebut. Padahal di tempat itu belum terdapat sumber listrik PLN seperti umumnya lokasi pemasangan tower jaringan selular. Satu-satunya sumber listrik bagi penduduk adalah genset yang hanya beroperasi dari jam 5 sore sampai 6 pagi. Meskipun demikian komunikasi dengan ponsel bisa dilakukan selama 24 jam dengan kualitas yang sama dengan di kota besar. Perubahan cara berkomunikasi masyarakat daerah tertinggal seperti dicontohkan di atas, dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan sinyal positif bagi percepatan pembangunan. Sebab mereka mampu mengadopsi perkembangan teknologi komunikasi yang bergerak sangat cepat. Teknologi selular telah menimbulkan pembaruan komunikasi bagi masyarakat pedalaman. Teknologi ini mengubah cara berkomunikasi, memperoleh, dan menyebarkan informasi. Kini distribusi informasi dapat dilakukan dengan kecepatan tinggi. Sesuatu yang dulu merupakan impian bagi masyarakat daerah tertinggal, kini menjadi kenyataan dengan hadirnya operator selular. Bagaimanapun juga perkembangan teknologi komunikasi membawa perubahan bagi masyarakat. Salah satu sisi positif kehadiran jaringan ponsel akan menumbuhkan harapan-harapan baru bagi peningkatan taraf hidup. Masyarakat transmigran di kampung saya yang menjadi contoh kasus dalam tulisan ini, memanfaatkan ponsel untuk bertukar informasi tentang perkembangan harga kelapa sawit. Mereka yang umumnya petani kelapa sawit cepat mengetahui informasi penawaran harga tertinggi dari beberapa pabrik di daerah tersebut. Pemesanan pupuk dari distributor di kota juga bisa dilakukan melalui ponsel. Hal ini berbeda sekali dengan beberapa tahun lalu, informasi harga tidak cepat diketahui dan pemesanan pupuk harus langsung datang ke kota. Interaksi ekonomi melalui bantuan teknologi komunikasi selular ini memberi dampak positif bagi peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat di daerah tertinggal. Penggunaan ponsel juga memberikan perubahan interaksi sosial masyarakat, dilihat dari cara berkomunikasi. Kehadiran ponsel lambat laun mengurangi interaksi tatap muka. Penyebaran informasi yang sebelumnya dilakukan secara door to door kini cukup melalui SMS. Percakapan dengan tetanggapun bisa dilakukan tanpa beranjak dari tempat duduk. Hal ini kadang menimbulkan kekecewaan-kekecewaan baru karena kemajuan teknologi tersebut tidak diiringi dengan kesiapan mental masyarakat yang menerimanya. Dari segi tren dan gaya hidup, masyarakat di pedalaman kini tak mau tertinggal dengan masyarakat kota. Perkembangan teknologi selular yang dibarengi dengan perkembangan teknologi HP dari berbagai merek, membuat masyarakat khususnya remaja, mengikuti tren berganti-ganti HP dengan seri terbaru. Perubahan gaya hidup ini juga disebabkan karena pengaruh budaya konsumerisme melalui iklan-iklan HP dan semakin meningkatnya daya beli mereka. Kini bagi masyarakat pedalaman, kehadiran ponsel bukan lagi menjadi kebutuhan tetapi sudah menjadi bagian dari perilaku kehidupan. Karena penggunaan ponsel memberi kontribusi yang cukup besar bagi pengembangan kompetensi sosial masyarakat.
Petani Kini Tidak Gagap Teknologi
Untuk mencapai tujuan pembangunan di daerah tertinggal, diperlukan langkah-langkah yang memungkinkan bagi masyarakat untuk menyampaikan dan memperoleh informasi dengan lebih cepat. Implikasinya dibentuk dengan strategi penyampaian pesan-pesan melalui saluran komunikasi yang baik. Teknologi selular merupakan salah satu jawaban untuk meningkatkan percepatan informasi antarpenduduk. Sejarah mencatat, sebagian besar percepatan pembangunan dimulai dan didorong oleh teknologi baru. Di sini teknologi komunikasi memainkan peranan utama dan dianggap “sektor nomor satu” dalam percepatan pembangunan. Peranan operator selular dalam percepatan pembangunan daerah tertinggal adalah sebagai agen pembaru (agent of communication change). Letak peranannya adalah dalam hal membantu mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat yang modern. Khususnya peralihan dari kebiasaan-kebiasaan berkomunikasi yang menghambat pembangunan ke arah sikap baru yang tanggap terhadap pembaruan demi pembangunan. Meskipun sejarah membuktikan perubahan sosial berjalan lambat, tetapi kehadiran operator selular menjadikannya lebih cepat. Hal ini disebabkan, pemilik teknologi komunikasi menerapkan teknologinya secara cepat kepada masyarakat. Masyarakat daerah tertinggal, termasuk daerah transmigrasi yang berada di pedalaman merupakan salah satu contoh konkret cepatnya perubahan karena teknologi komunikasi. Kemudahan-kemudahan yang diberikan dari perkembangan teknologi ini menyebabkan masyarakat cepat menerimanya. Sehingga para petani yang dulu hanya mengenal alat-alat pertanian, kini pergi ke ladang juga membawa ponsel. Kehadiran operator selular membuat petani di pedalaman tidak gagap terhadap teknologi komunikasi. Sehingga di antara rerimbun ilalang dan pohon-pohon kelapa sawit sering terdengar dering ponsel. Suatu perubahan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Penguasaan teknologi oleh petani merupakan salah satu ciri percepatan pembangunan di daerah tertinggal. Sebab petani mempunyai peranan penting dalam struktur perekonomian di daerah-daerah pedalaman. Berbagai kemudahan karena teknologi informasi membawa peningkatan taraf hidup masyarakat. Hal ini disebabkan karena akses informasi ekonomi seperti harga, pasar, penawaran, dan permintaan hasil-hasil pertanian diterima petani dengan cepat. Perubahan perilaku komunikasi ini berkorelasi dengan perilaku ekonomi masyarakat.
Pengaruh lain setelah diperkenalkannya teknologi komunikasi mutakhir kepada masyarakat di daerah tertinggal, adalah tersedianya saluran komunikasi bagi orang-orang buta huruf. Mereka yang sebelumnya tidak dapat bisa menggunakan alat komunikasi tertulis (surat), kini dapat memberi dan menerima informasi dari sanak saudara dengan ponsel. Sehingga peran operator selular menjadi sangat penting bagi perubahan cara berkomunikasi mereka.
Masa Depan Pemanfaatan Teknologi Selular di Pedalaman
Ke depan tidak tertutup kemungkinan, operator selular dapat membangun jaringan internet pedesaan untuk kepentingan pembangunan perekonomian (E-commerce), pendidikan (E-education) dan pelayanan publik (E-government). Tersedianya fasilitas GPRS, 3G dan koneksi internet melalui ponsel merupakan modal untuk pembangunan sarana komunikasi online di pedalaman. Dalam konteks ini perusahaan-perusahaan operator selular dapat memanfaatkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pemberdayaan komunikasi masyarakat daerah tertinggal. Merupakan suatu langkah luar biasa bila ada operator selular yang berani mengangkat kehidupan masyarakat daerah tertinggal yang identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Secara ekonomi (E-commerce), internet di pedesaan membantu petani dan nelayan sebagai komunitas ekonomi terbesar, untuk meningkatkan pengetahuan kegiatan ekonominya melalui percepatan informasi. Mereka juga dapat memperluas pasar hasil pertanian dan perikanan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Selain itu petani dan nelayan juga bisa berproduksi sesuai dengan permintaan pasar, karena kemudahan informasi tersebut. Dengan bantuan koneksi internet operator selular, mereka mampu meningkatkan kualitas hasil dan mengontrol supply dan demand. Dalam bidang pendidikan (E-Education), hingga saat ini semua sekolah di pedalaman belum mengenal internet. Kondisi ini menyebabkan pendidikan di daerah tertinggal sulit berkembang. Kehadiran operator seluler diharapkan dapat memberikan perubahan melalui layanan teknologi komunikasi untuk mendukung proses belajar mengajar. Sebab kebijakan pendidikan saat ini menuntut kesetaraan penguasaan pengetahuan antara sekolah di perkotaan dan di pedalaman. Dengan internet pedesaan yang terhubung melalui jaringan ponsel, diharapkan siswa sekolah di daerah tertinggal tidak gagap terhadap perkembangan teknologi dan informasi. Meskipun penciptaan digitalisasi pelayanan publik (E-government) di pedalaman terbentur berbagai keterbatasan, bukan tidak mungkin untuk ke depan operator selular membuat gebrakan baru dalam bidang tersebut. Luasnya jaringan operasi operator selular bila diikuti dengan pengembangan teknologi, tidak mustahil mampu membuat sistem komunikasi online sampai ke pemerintahan desa. Dengan demikian pelayanan publik dan keunggulan-keunggulan lokal di daerah tertinggal dapat diglobalisasikan melalui sentra komunikasi jaringan selular. Berbagai paradigma pemanfataan teknologi komunikasi selular untuk kepentingan publik tersebut, sesuai dengan ramalan salah seorang penggagas komunikasi pembangunan Wilbur Schramm (1907 – 1987), bahwa masa mendatang merupakan “Dekade Satelit”. Satelit-satelit komunikasi dirancang untuk menghasilkan “efek ganda” terhadap penyebaran media massa, telekomunikasi, dan transmisi data. Penyesuaian arus kemajuan teknologi dengan kemampuan masyarakat dalam menyerap teknologi komunikasi dinilai sebagian besar ahli komunikasi sebagai syarat keberhasilan pembangunan. Dengan demikian teknologi akan berkembang seirama dengan kemampuan masyarakat dalam menerima teknologi tersebut. Bagi daerah-daerah yang sedang berkembang, kebijaksanaan komunikasi hendaknya ditujukan pada pencapaian “keseimbangan dinamis” dari pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sehingga tercapai stabilitas sosial. Di sini yang patut dicatat, perkembangan teknologi komunikasi di daerah-daerah tertinggal selalu ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana masyarakat memanfaatkan kecanggihan teknologi tersebut. Ponsel memang terbukti mengubah sistem komunikasi masyarakat pedalaman. Artinya operator selular telah membantu revolusi komunikasi masyarakat daerah tertinggal dengan teknologi komunikasi selular yang dibawanya. Sehingga terjadi pemerataan penguasaan teknologi komunikasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan demikian pembangunan teknologi komunikasi dapat mempercepat pembangunan ekonomi daerah-daerah tertinggal.


SUMBER : http://zanikhan.multiply.com

Minggu, 21 Desember 2008

sejarah perkembangan televisi

Nama : Resgana Fitra Kumara(061625)
SEJARAH PERKEMBANGAN TELEVISI
Pada tahun 1962 menjadi tonggak pertelevisian Nasional Indonesia dengan berdiri dan beroperasinya TVRI. Pada perkembangannya TVRI menjadi alat strategis pemerintah dalam banyak kegiatan, mulai dari kegiatan sosial hingga kegiatan-kegiatan politik. Selama beberapa decade TVRI memegang monopoli penyiaran di Indonesia, dan menjadi “ corong “ pemerintah. Sejak awal keberadaan TVRI, siaran berita menjadi salah satu andalan. Bahkan Dunia dalam Berita dan Berita Nasional ditayangkan pada jam utama. Bahkan Metro TV menjadi stasiun TV pertama di Indonesia yang fokus pada pemberitaan, layaknya CNN atau Al-Jazeera. Pada awalnya, persetujuan untuk mendirikan televisi hanya dari telegram pendek Presiden Soekarno ketika sedang melawat ke Wina, 23 Oktober 1961. Sulit dibayangkan bagiamana repotnya dan susahnya ketika itu, karena bahkan untuk memlilih peralatan yang mana dari perusahaan apa, masih serba menerka. Dalam perkembangannya, TV swasta melahirkan siaran berita yang lebih variatif. Siaran berita yang bersifat straight news, seperti Liputan 6 (SCTV), Metro Malam (Metro TV), dan Seputar Indonesia (RCTI) tidak jadi satu-satunya pakem berita televisi. Kurang dalamnya straight news disiasati stasiun TV dengan tayang depth reporting, yang mengulas suatu berita secara lebih mendalam. Tayangan itu antara lain Metro Realitas (Metro TV), Derap Hukum dan Sigi (SCTV) dan Kupas Tuntas (Trans TV). Sementara itu, berita kriminal mendapat tempat tersendiri dalam dunia pemberitaan televisi, sebutlah Buser (SCTV), Sergap (RCTI) dan Patroli (Indosiar). Tonggak kedua dunia pertelevisian adalah pada tahun 1987, yaitu ketika diterbitkannya Keputusan Menteri Penerangan RI Nomor : 190 A/ Kep/ Menpen/ 1987 tentang siaran saluran terbatas, yang membuka peluang bagi televisi swasta untuk beroperasi. Seiring dengan keluarnya Kepmen tersebut, pada tanggal 24 agustus 1989 televisi swasta, RCTI, resmi mengudara, dan tahun-tahun berikutnya bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta baru, berturut-turut adalah SCTV ( 24/8/90 ), TPI ( 23/1/1991 ), Anteve ( 7/3/1993 ), indosiar ( 11/1/1995 ), metro TV ( 25/11/2000 ), trans TV ( 25/11/2001 ), dan lativi ( 17/1/2002 ). Selain itu, muncul pula TV global dan TV 7. jumlah stasiun televisi swasta Nasional tersebut belum mencakup stasiun televisi lokal – regional.. Maraknya komunitas televisi swasta membawa banyak dampak dalam kehidupan masyarakat, baik positif atau negatif. Kehadiran mereka pun sering menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Pada satu sisi masyarakat dipuaskan oleh kehadiran mereka yang menayangkan hiburan dan memberikan informasi, namun di sisi lain mereka pun tidak jarang menuai kecaman dari masyarakat karena tayangan-tayangan mereka yang kurang bisa diterima oleh masyarakat ataupun individu-individu tertentu. Bagaimanapun juga, televisi telah menjadi sebuah keniscayaan dalam masyarakat dewasa ini. Kemampuan televisi yang sangat menakjubkan untuk menembus batas-batas yang sulit ditembus oleh media masa lainnya. Televisi mampu menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis, ia juga hadir di ruang-ruang publik hingga ruang yang sangat pribadi. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup ( gerak atau live ) yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Oleh karena itu, ia memiliki sifat yang sangat istimewa.
Kemampuan televisi yang luar biasa tersebut sangat bermanfaat bagi banyak pihak, baik dari kalangan ekonomi, hingga politik. Bagi kalangan ekonomi televisi sering dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk pada konsumen. Sementara, bagi kalangan politik, televisi sering dimanfaatkan sebagai media kampanye untuk menggalang masak, contohnya adalah, banyak pihak yang menilai kemenangan SBY di Indonesia dan JFK di Amerika sebagai presiden adalah karena kepiawaian mereka memenfaatkan media televisi. Belakangan, televisi pun sering dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai media sosialisasi sebuah kebijakan yang akan di ambil kepada masyarakat luas, seperti yang belakangan adalah sosialisasi tentang kenaikan harga BBM dan tarip dasar listrik. Kehadiran televisi banyak memberi pengaruh positif dalam masyarakat, terutama yang terkait dengan kemampuannya untuk menyebar informasi yang cepat dan dapat diterima dalam wilayah yang sangat luas pada waktu yang singkat. Hasil penelitian MRI ( 2001 ) terhadap para ibu yang diungkapkan oleh Puspito ( Almira-online ) menyebutkan bahwa siaran televisi memberikan dampak positif bagi anak-anak mereka. Diantara dampak positif tersebut adalah menambah wawasan anak, anak menjadi lebih cerdas, anak dapat membedakan yang baik dan jahat, serta dapat mengembangkan keterampilan anak. Dampak negatif yang ia lihat pada anak mereka, yaitu berperilaku keras, moralitas negatif, anak pasif, dan tidak kreatif nilai sekolah rendah, kecanduan menonton, dan perilaku konsumtif.

• SEJARAH TELEVISI LOKAL Penyiaran saat ini tidak lagi menjadi monopoli Jakarta. Fenomena menjamurnya televisi lokal di berbagai daerah dapat dijadikan indikator telah menyebarnya sumber daya penyiaran. Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), sebuah organisasi tempat bergabungnya televisi lokal yang berdiri pada 26 Juli 2002, hingga saat ini telah menghimpun sebanyak 23 industri televisi lokal. Anggotanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, ada Bandung TV di Bandung, Bali TV di Bali, Riau TV di Pekanbaru Riau, dan berbagai daerah lainnya. Belum lagi keberadaan televisi lokal lainnya yang belum terdata sama sekali. Dapat dibayangkan betapa ramainya udara Indonesia di masa yang akan datang dengan maraknya televisi lokal yang akan bermunculan. menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada persoalan sulitnya mendapatkan share iklan. Iklan merupakan masalah tersendiri yang cukup membuat gelisah para pengelola sebagian besar televisi lokal. Potret buruknya sistem manajemen sebagian televisi lokal dapat dilihat dalam peristiwa protes karyawan salah satu televisi lokal yang terjadi di tahun 2005. Protes karyawan dilatarbelakangi karena rendahnya upah yang diterima serta tidak adanya kepastian kerja bagi mereka. Tumpuan harapan
Publik sesungguhnya menaruh harapan begitu tinggi terhadap televisi lokal. Kehadirannya di belantika penyiaran diharapkan dapat memberi alternatif tontonan dan dapat mengakomodasi khazanah lokalitas yang saat ini kurang tertampung dalam tayangan televisi Zaman telah berubah, konsentrasi media dan pemusatan modal ingin dihilangkan. Walau tidak bisa dilakukan secara langsung, keinginan menyebar sumber daya itu akan dilakukan secara bertahap seiring dengan penataan sistem dan regulasinya. Ini merupakan berkah yang patut disyukuri masyarakat daerah.
Bila keadaan ini terus berjalan sesuai harapan, geliat industri penyiaran di daerah akan berkembang dan orang tidak lagi melihat Jakarta sebagai pusat peradaban penyiaran. Peradaban penyiaran lambat laun akan tumbuh di berbagai daerah. Fenomena ini mungkin hampir sama dengan keadaan pada zaman Yunani kuno. Di sana polis- polis berkembang dan kebudayaan tidak terpusat di suatu tempat. Tanggung jawab pengelola
Banyaknya masalah yang dihadapi oleh industri televisi lokal menuntut perhatian dan upaya untuk mengatasinya. Hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab regulator penyiaran, melainkan juga menjadi tanggung jawab pengelola televisi lokal itu sendiri. Dari sudut regulator diharapkan ada regulasi atau kebijakan yang memihak terhadap tumbuhkembangnya televisi lokal. Pemihakan itu kemudian dituangkan dalam produk peraturan. Dari sisi televisi lokal, harus segera dilakukan upaya, antara lain pertama, televisi lokal harus mampu menciptakan keunikan dari program siaran yang dikelolanya. Bila hal ini dapat dilakukan, setidaknya televisi lokal dapat membangun posisi tawar di hadapan televisi Jakarta dan dapat meraih pemirsa daerah yang selama ini menjadi penonton loyal televisi local. Bila televisi lokal telah menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, rasanya cita-cita mewujudkan sistem penyiaran nasional yang berkeadilan bukanlah sebuah impian yang utopis. Pada era otonomi daerah, peran media massa makin urgen. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah lebih menitikberatkan pada partisipasi dan kontrol masyarakat serta pemberdayaan institusi lokal. Salah satu upaya yang harus dilakukan demi suksesnya otonomi daerah adalah mengoptimalkan peran institusi lokal nonpemerintah, seperti media massa. Strategi komunikasi yang berkembang pun tidak lagi centrist vertical seperti pada masa Orde Baru. Pada masa itu, media massa hanya menjadi corong komunikator puncak yang duduk di jabatan tertinggi pemerintahan sehingga informasi yang beredar pun hanya untuk kepentingan pemerintahan. Sementara itu, masyarakat diposisikan hanya sebagai komunikan yang dijejali dengan berbagai propaganda. Di Indonesia saat ini sudah berkembang startegi komunikasi two way traffic yang dalam pandangan Peterson dan Burnett, telah terjadi komunikasi vertikal downward communication dan upward communication. Realitas tersebut merupakan angin surga bagi kehidupan media massa di tanah air. Setidaknya, media massa pada orde ini dapat lebih memberdayakan dirinya sembari tetap mempertahankan empat fungsi pokoknya, yakni, memberikan informasi (to inform), menjadi media pendidikan (to educate), sarana hiburan bagi masyarakat (to entertain), dan kontrol sosial (social control). Keempat fungsi pokok tersebut harus dikayuh dalam bingkai-bingkai norma yang berlaku, baik norma hukum, norma agama, norma susila, maupun norma kesopanan.
Sumber : http://wa2npo3nya.blogspot.com

Artikel Perkembangan Banten Tv

Perkembangan Banten Tv

Banten Tv yang merupakan tv lokal masyarakat Propinsi Banten mulai mengudara di tahun 2006. Program- program yang yang ditawarkan adalah program berita, hiburan untuk anak muda, sampai hiburan untuk keluarga. Presentasi siaran Banten tv ke masyarakat adalah bersifat berimbang, antara news dan entertain. Acara- acara Banten tv sendiri belum bisa banyak memproduksi acara- acara sendiri karena terbentur oleh modal yang harus memenuhi BEP (titik impas) pemilik modal.
Dana operasional Banten tv sendiri sebagian besar masih dari pemilik modal, karena iklan- iklan di Banten tv belum banyak bermunculan. Sebab memperoleh iklan untuk dana operasional masih membutuhkan waktu, karena Banten tv merupakan tv lokal yang baru. Sehingga dengan banyaknya iklan, maka ke depan Bnanten tv akan bisa memproduksi acara sendiri.
Berbicar soal kendala maupun kelemahan Banten tv, tentunya masih ada. Misalnya seperti misalnya seperti produksi dari Bnaten tv sendiri yang kurang banyak, kendala modal yang harus memenuhi BEP (titik impas) dan kelemahan yang menjadi pembicaraan seperti siaran Banten tv yang sering mengganggu siaran tv nasional ke daerah Banten, karena tv nasional terbentur pemancar Banten tv bertransmisi 10.000 watt. Sehingga dengan adanya hal ini, masyarakat seringkali dikeluhkan dengan tergganggunya siaran tv nasional. Di lain hal, jangkauan tv (Banten tv) berpengaruh juga pada iklan di tv lokal. Sehingga wajarlah jika iklan- iklan di Banten tv belim banyak bermunculan.
Tentu dengan adanya tv local seperti Banten tv, masyarakat Banten akan ditawarkan siaran berupa hiburan dan berita. Sehingga Banten tv menjadi sarana informasi kepada masyarakat Banten khususnya dengan menggunakan poetnsi- potensi SDM lokal untuk mengembangkan Banten tv.

Resgana Fitra Kumara (061625)

Senin, 15 Desember 2008

KONVERGENSI TEKNOLOGI

NAMA : RESGANA FITRA KUMARA (061625)
PERTEKOM (KONVERGENSI TEKNOLOGI)
Telepon Internet
Loncatan Tinggi Konvergensi Teknologi
Kemajuan teknologi telekomunikasi beserta sistem jaringannya memang mengubah paradigma penting cara kita berkomunikasi. Sebagai pengguna awam teknologi, tidak penting apakah sambungan telepon jarak jauh maupun internasional itu menggunakan teknologi Voice over Internet Protocol atau menggunakan teknologi nirkabel, konsumen telekomunikasi akan selalu mencari alternatif termurah untuk menekan biaya percakapan teleponnya. Dan di sisi lain, perusahaan telekomunikasi sudah harus berbenah diri secepat mungkin agar tidak menjadi korban teknologi komunikasi informasi itu sendiri. Persoalannya, biaya telekomunikasi di Indonesia untuk berbagai keperluan baik di dalam kota, antarkota, dan internasional maupun seluler masih sangat mahal dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia. Sementara para operator telekomunikasi incumbent, karena paling besar sering kali tidak menyadari bahwa konvergensi teknologi bukan hanya dimaksudkan sebagai kemampuan bertemunya mesin dengan mesin, tetapi juga memiliki nuansa pertemuan antara orang dan orang. Karena tidak ada yang bisa memperkirakan kemajuan teknologi seperti apa yang akan dihadapi dalam kurun waktu 3 bulan atau 1 tahun ke depan. Salah satu kemajuan teknologi yang sangat "ditakuti" oleh para operator incumbent, khususnya PT Telkom, adalah perkembangan teknologi Voice over Internet Protocol (VoIP). Kehadiran teknologi VoIP membawa perubahan penting dan berakhirnya dominasi yang dikenal sebagai SLI dan SLJJ. Ketika teknologi bagi disebut sebagai VoIP Merdeka yang dikembangkan komunitas di Indonesia dipelopori oleh Dr Onno W Purbo, incumbent dengan mudah berlindung di balik regulator dan perundangan telekomunikasi. Begitu juga dengan munculnya aplikasi VoIP seperti Skype (www.skype.com), semua mengira penggunaan teknologi ini hanya bisa digunakan dibalik komputer saja. Padahal, ketika kita berbicara soal konvergensi, para insinyur di berbagai perusahaan teknologi komunikasi informasi berupaya keras untuk mencangkokkan kemudahan dan kemurahan yang ditawarkan dalam pembicaraan jarak jauh dengan kualitas suara yang semakin sempurna. Hasilnya, Motorola mengumumkan untuk mencangkokkan berbagai ponselnya dengan aplikasi Skype.
Tidak berbatas Kenyataan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi informasi ini seperti langit, tidak memiliki batas. Dan semangat ini dicerminkan Siemen asal Jerman yang memperkenalkan sistem DECT (Digital Enhanced Cordless Telephone) terbarunya, Gigaset S430, sebagai telepon nirkabel dalam ruangan. Berbeda dengan sistem DECT ketika pertama kali diperkenalkan di pasaran (lihat Kompas 25/1/2002), Gigaset S430 ini tampil dengan monitor berwarna dan memiliki fitur tambahan yang tidak tersedia pada perangkat sebelumnya. Gigaset S430 memiliki fitur SMS, serta dari kejauhan perangkat teleponi nirkabel ini seperti sebuah ponsel layaknya. Desainnya sendiri juga sangat menarik, berwarna abu-abu dengan tombol-tombol yang futuristik dan memudahkan penggunanya. Yang menarik dan bukti konvergensi tanpa batas ini adalah ketika Gigaset S430 berhubungan dengan perangkat Gigaset M34 USB yang dihubungkan ke komputer, dan S430 memiliki fitur teleponi internet menggunakan aplikasi Skype. Kalau selama ini para pengguna Skype harus memakai mikrofon dan headphone untuk menjalankan aplikasi Skype di komputer, melalui perangkat M34 USB percakapan Skype sekarang bisa digunakan pada Gigaset S430. Adaptor USB (Universal Serial Bus) buatan Siemens ini memungkinkan untuk melakukan percakapan teleponi internet menggunakan Skype memanggil pengguna Skype lainnya atau panggilan SkypeOut yang memungkinkan melakukan panggilan teleponi ke jaringan tradisional. Kualitas suara yang dihasilkan dalam menggunakan Gigaset S430 ini seperti kualitas suara ponsel seluler ketika menggunakan panggilan Skype. Yang menyenangkan dari penggunaan perangkat buatan Siemens ini adalah instalasinya yang sederhana, dan biaya teleponi yang murah ketika melakukan pembicaraan jarak jauh maupun internasional.
Suara nirkabel
Perangkat lain yang juga menghadirkan nuansa baru dalam teleponi internet adalah Prestige 2000W buatan ZyXEL Communications Corp asal Taiwan. Secara desain, Prestige 2000W (foto-foto kiri) mirip telepon nirkabel yang menggunakan jaringan telepon rumah. Teleponi internet buatan ZyXEL ini memanfaatkan teknologi nirkabel 802.11b dengan kecepatan transfer data sampai 11 Mbps. Prosedur penggunaannya pun mudah, dimulai dengan memindai perangkat access point yang terhubung ke dalam sistem jaringan, menentukan alamat Internet Protocol (IP), menetapkan SIP (Session Initiation Protocol) yang mengatur protokol sinyal ketika terjadi pembicaraan, dan menetapkan nomor perangkat untuk identifikasi panggilan (seperti 100, 101, 102, dan seterusnya). Perangkat ini memiliki tiga pilihan agar bisa menjalankan fungsi telepon internet, melalui IP tetap, melalui protokol dinamis DHCP (Dynamic Host Control Protocol), serta melalui koneksi dial-up PPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet). Memang untuk instalasi perangkat Prestige 2000W ini harus dilakukan oleh mereka yang mengerti sistem jaringan, dan menjadi tidak mudah untuk orang awam walaupun sudah mengikuti buku petunjuk. Namun, setelah semua protokol terpasang secara benar, pembicaraan teleponi internet menjadi menyenangkan dan bebas pulsa selama 240 menit, waktu bicara yang dimungkinkan dengan daya tahan baterai perangkat ini. Menggunakan tampilan LCD monochrome, Prestige 2000W juga memiliki fitur yang mirip sebuah ponsel, seperti penguncian tombol (keylock), serta kemampuan untuk bergetar pada saat ada panggilan masuk. Fitur lainnya, perangkat ini juga bisa berfungsi sebagai interkom, memungkinkan pemanggilan perangkat sejenis yang berada dalam satu sistem jaringan. Salah satu kendala perangkat ini kalau digunakan untuk jarak jauh melintas beberapa sistem jaringan, perlu membuat sistem server gateway sendiri menggantikan posisi IP Telephony Service Provider yang tidak banyak tersedia di Indonesia. Namun, kalau Prestige 2000W digunakan oleh perusahaan yang memiliki kantor perwakilan tersebar di mana- mana, produk buatan ZyXEL ini menjadi solusi penghematan telekomunikasi penting untuk dipertimbangkan.
Loncatan jauh
Telepon internet baik berupa aplikasi dalam komputer maupun perangkat keras yang berdiri sendiri akan menjadi tren penting mengawali perubahan telekomunikasi jarak jauh murah yang pasti tidak akan mudah diikuti para incumbent. Penggelaran akses kecepatan tinggi seperti fasilitas broadband dengan sendirinya juga akan mendorong pertumbuhan teleponi internet. Pengguna teleponi internet akan menikmati harga rata (flat rate) jasa koneksi internet, dan tidak lagi berhadapan dengan struktur harga telekomunikasi hierarki yang diterapkan incumbent. Beberapa tahun lalu (bahkan sampai sekarang) masih ada anggapan bahwa sistem telepon umum yang dikenal akan tetap berjaya, dan akan sulit untuk memasuki pasaran. Ketika teknologi VoIP Merdeka diperkenalkan, muncul kekhawatiran incumbent yang segera berlindung di balik pembuat regulasi membatasi jasa teleponi internet hanya diberikan kepada lima perusahaan saja, di antaranya dua perusahaan yang tidak dikenal berpengalaman di bidang telekomunikasi. Kehadiran perangkat teleponi internet seperti Gigaset S430 dilengkapi dengan M34 USB serta ZyXEL Prestige 2000W merupakan sebuah loncatan penting dalam kemajuan konvergensi teknologi komunikasi informasi. Bahkan, sebuah loncatan yang mampu melampaui para pembuat peraturan dan para operator incumbent.

Sumber : www2.kompas.com

Selasa, 04 November 2008

Budaya dan konsep Teknlogi

Menyibak Aspek Budaya dalam Teknologi



Saat ini masyarakat menghadapi era teknologi dimana kehidupan manusia hampir seluruhnya tergantung pada alat yang memudahkan kinerja mereka. Internet, reactor nuklir, traktor merupakan sebagian kecil dari sekian banyak hasil teknologi di muka bumi yang sudah pasti sering kita dengar. Hasil teknologi membantu mengubah pola komunikasi yang mulanya dibatasi oleh ruang dan waktu menjadi pola komunikasi informasi tanpa batas. Dengan demikian, pada dasarnya teknologi bersifat baik namun pada aplikasinya dapat dipakai untuk menjalankan tujuan baik atau buruk.

Adanya gagasan yang menyatakan bahwa teknologi bersifat amoral, kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, apakah teknologi imparsial dari nilai-nilai budaya?

Jika melihat dari prinsip kerja dan konstruksi dasar mesinnya, maka muncul respon yang positif. Dalam buku dikatakan bahwa, jika angka kematian sangat tinggi, jika penduduk dunia ketakutan dengan senjata nuklir dan jika banyak hewan dan tumbuhan yang punah karena polusi maka jangan salahkan teknologi tetapi salahkan orang-orang yang menyalahgunakannya. Prinsip kerja teknologi sudah barang tentu valid dan tidak dapat dengan mudah dirubah-rubah, apakah teknologi tersebut berdampak baik atau buruk terhadap lingkungan sekitar tergantung pada bagaimana orang-orang mengaplikasikannya.

Namun, jika melihat dari bagaimana teknologi dipakai dalam kehidupan sehari-hari, status yang dibawa oleh pemakai teknologi tersebut, serta kemampuan pemakai dalam menyuplai kebutuhan teknologi tersebut, maka jelas bahwa teknologi tidak imparsial dari nilai-nilai budaya dan aspek humanisme.

Untuk mampu menjelaskan lebih lanjut dan memahami bahwa teknologi tidak hanya menyangkut teknik dan pengetahuan melainkan juga melibatkan nilai-nilai cultural dan organisasi, maka konsep tentang penerapan teknologi perlu diperjelas dengan menjabarkan definisinya.

Dengan menggunakan diagram, Pacey menjabarkan 3 aspek penerapan teknologi, yaitu:

1. Aspek organisasi, meliputi kegiatan perseorangan, institusi, organisasi. Wujud dari aspek ini berupa suatu kebijakan atau policy yang mengatur pemanfaatan teknologi pada masyarakat dimana kebijakan ini dikeluarkan oleh organisasi yang mengatur masyarakat dalam lingkup lebih luas yaitu pemerintah.

2. Aspek teknis, meliputi aspek internal yang dimiliki oleh teknologi, pengetahuan, keahlian, teknik. Misalnya dari spesifikasi, fitur, perangkat keras maupun lunak, compatibility, inovasi, dll yang dimiliki oleh teknologi tertentu.

3. Aspek budaya, meliputi tujuan, perilaku, tata nilai, norma, etika, kepercayaan yang melekat di masyarakat yang menggunakan teknologi. Aspek terakhir inilah yang paling abstrak dibandingkan dengan dua aspek sebelumnya karena faktor-faktor yang mempengaruhi budaya ini sangat kompleks.

Selama ini, masyarakat menggunakan teknologi dalam konsep yang sangat luas namun dengan makna yang kadang sangat terbatas. Apabila teknologi diterapkan dalam konteks yang terbatas dimana teknologi hanya dianggap sebagai hal yang menyangkut teknis, mekanis dan pengetahuan, maka nilai-nilai budaya dan organisasi akan menjadi factor eksternal dan dikesampingkan. Namun, jika diterapkan dalam konteks yang lebih luas maka teknologi dikatakan imparsial karena memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung pada nilai-nilai budaya, tradisi dan lingkungan. Dari uraian di atas, jelas bahwa nilai-nilai budaya menjadi factor penentu teknologi apa yang akan dipilih serta dampak atau perubahan yang akan dialami oleh budaya tersebut.

Mendefinisikan teknologi yang semata-mata hanya meliputi aspek teknis menimbulkan masalah di masyarakat, mereka cenderung mengabaikan peran organisasi, bahkan mengabaikan peran ide, nilai, dan kepercayaan. Oleh karena itulah, dengan dukungan dari ketiga elemen yaitu organisasi, teknis, budaya kehadiran teknologi sesungguhnya dapat diimplementasikan lebih efektif di masyarakat.

Dengan demikian, dari uraian diatas dapat diambil definisi bahwa penerapan teknologi adalah penerapan sains dan ilmu pengetahuan lain ke dalam praktek di kehidupan sehari-hari oleh sistem sosial yang melibatkan masyarakat dan organisasi, makhluk hidup dan mesin.

Hingga saat ini teknologi seringkali dibuat tanpa mempertimbangkan aspek-aspek budaya, padahal sudah seharusnya sebuah teknologi didisain sesuai dengan pola aktifitas masyarakat yang memiliki gaya hidup dan nilai-nilai budaya tertentu. Dari sini jelas bahwa aspek budaya seringkali diabaikan. Sebuah teknologi yang diperuntukkan bagi sebuah komunitas dengan nilai dan budaya tertentu, membutuhkan usaha-usaha yang tidak mudah agar dapat juga diterapkan pada komunitas yang lain.

Banyak teknologi yang pada akhirnya gagal diterapkan pada masyarakat dengan nilai, kepercayaan dan norma tertentu. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan cara pandang tentang hal yang akan dimudahkan dengan adanya teknologi tersebut, selain itu keahlian serta apresiasi terhadap teknologi juga berpengaruh terhadap kegagalan tersebut. Penghargaan/apresiasi terhadap penerapan teknologi sangatlah penting karena terobosan baru dari sebuah teknologi dapat muncul apabila ada kesatuan tata usaha, perawatan, dan disain teknik.

Sementara itu dari sisi teknokratnya, para ahli ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung hanya dididik mengenai prinsip-prinsip teknologi secara umum jika diterapkan dalam situasi kondisi yang general. Mereka umumnya tidak dibekali dengan pengetahuan yang matang untuk menghadapi situasi yang spesifik. Mereka mungkin peduli dengan masalah-masalah social yang akan dihadapi ketika sebuah teknologi diterapkan dalam masyarakat tertentu, namun seringkali mereka tidak yakin apakah tindakan yang akan diambil akan dapat mengatasi masalah.

Aspek cultural memang merupakan satu-satunya factor yang mempengaruhi teknologi yang bersifat abstrak dan tersembunyi. Seringkali inti permasalahan yang menyangkut nilai, norma, kepercayaan tertutupi oleh masalah-masalah perawatan (maintenance), kebijakan pemerintah ataupun aspek teknis. Sehingga terkadang, ilmuwan harus lebih sering untuk terjun ke lapangan untuk melihat secara langsung aspek-aspek cultural yang ada dalam bentuk kasus nyata penerapan teknologi tertentu di masyarakat, dan dari sanalah sesungguhnya insight untuk pemecahan masalah ataupun pembuatan teknologi baru diperoleh.

Sementara itu, masyarakat awam masih cenderung mengaitkan teknologi dengan alat daripada mengkaitkannya dengan sejumlah aktivitas manusia membuat masyarakat sulit untuk diajak berpikir mengenai konteks teknologi yang lebih luas yaitu perkembangannya terkait dengan aspek budaya. Pemikiran demikan disebut dengan interpretasi linear dimana masyarakat beranggapan teknologi hanya menyangkut masalah teknis. Hal ini akan mendorong masyarakat pada cara berpikir yang terlalu over-selective dimana masyarakat selalu melihat bahwa peningkatan di satu dimensi dari teknologi pasti diikuti oleh penurunan yang kurang memuaskan pada dimensi yang lain.

Interpretasi linear menganggap revolusi industri yang berawal dari ditemukannya mesin uap oleh James Watt adalah revolusi teknik yang membuka sistem ekonomi baru yaitu kapitalisme. Padahal keduanya sama sekali tidak terkait dengan keberadaan teknologi mesin uap karena pabrik-pabrik telah lama ada jauh sebelum mesin uap ditemukan.

Memang pada kenyataannya pabrik-pabrik tersebut tidak akan berkembang pesat tanpa adanya hasil temuan baru tersebut. Namun, jika kita menggali lebih dalam sesungguhnya organisasi kerjalah yang merupakan teknologi yang lebih dahulu ditemukan daripada mesin uap.

Semakin berkembangnya teknologi, tangan manusia digantikan oleh mesin dan hasil-hasil penemuan ilmiah sehingga makin memudahkan manusia, membut aspek organisasi semakin sederhana karena tidak ada pembagian kerja sehingga hanya dibutuhkan sedikit SDM. Mekanisasi ini diupayakan untuk meminimalisir biaya tenaga kerja. Dari sini, muncul pertanyaan, apakah teknologi moderen memikirkan aspek-aspek humanis? teknologi menggantikan tenaga manusia sehingga menimbulkan dampak meningkatnya pengangguran.

Para determinis, memberikan 2 pandangan terkait dengan kemajuan teknologi. Yaitu interpretasi yang dikaitkan dalam konteks yang luas, yaitu aspek organisasi dan interpretasi linear yang diekspresikan dengan grafik yang terus meningkat secara perlahan dan tetap. Namun interpretasi linear ini dapat mendorong orang pada optimisme yang salah dan memandang dengan pesimis dimensi lain dari teknologi karena sesungguhnya kemajuan teknologi tidak hanya dapat diukur dari mesinnya saja pengukurannya akan lebih efektif jika melibatkan operator atau sistem manusia yang mengendalikannya. Penggunaan interpretasi ini dengan menggunakan grafik dipakai untuk mempertahankan bahwa teknologi imparsial.

Daripada menjadi seorang technological determinist yang terus menerus mengembar-gemborkan bagaimana teknologi yang semakin maju mampu mengubah sistem social di masyarakat tentu akan lebih baik mencari tahu bagaimana kemajuan organisasi mampu mendorong munculnya teknologi baru. Dan tentunya akan lebih mudah jika kita melihat sebuah penemuan dengan menggunakan konsep penerapan teknologi dan keseluruhan aspek yang melingkupinya karena dengan demikian inovasi akan dapat dianggap sebagai hasil interaksi dari social, budaya dan teknik.

Dalam perkembangan teknologi di masa depan hal yang paling ditakutkan adalah makin berkurangnya energi di permukaan bumi, dan ada banyak pilihan bagi manusia untuk mencegahnya baik mengembangkan energi nuklir, energi matahari maupun memanfaatkan energi sebaik-baiknya. Dan semua hal ini pasti terkait dengan aspek organisasi yaitu menyangkut kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah.

Pada suatu titik waktu tertentu, ketika ketiga aspek teknologi dapat menjadi satu kesatuan yang harmonis, maka masyarakat akan memiliki kepedulian yang lebih terhadap berbagai keumngkinan yang akan terjadi ketika teknologi diterapkan, termasuk antisipasi serta pilihan tindakan untuk meminimalisir kurangnya energi di bumi akibat penerapan teknologi yang disalahgunakan ataupun dipakai berlebihan. Bahkan pada saat itu akan muncul gerakan inovasi yang akan mendorong pada perkembangan dan kemajuan industri ataupun bidang yang lain.

Teknologi yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini oleh para ilmuwan masih dianggap setengah jalan (halfway) karena masalah yang akan ditangani oleh teknologi hanya dipahami dengan setengah-setengah oleh masyarakat awam. Misalnya, keberadaan pompa air yang ditujukan untuk memudahkan masyarakat local untuk mendapatkan air bersih langsung dari sumbernya. Namun, tanpa adanya penyuluhan atau pemberian informasi bahwa pompa harus selalu dirawat dan dibersihkan agar pompa tidak mudah rusak dan tetap menghasilkan air yang higienis, maka teknologi tidak akan maju bahkan mengalami kemunduran. Setiap kasus yang menyangkut teknologi dalam konteks luas akan selalu berhubungan dengan aspek perilaku invidu dan aspek-aspek budaya seperti kebiasaan hidup dan tata nilai, oleh karena itu diperlukan kearifan para ilmuwan untuk menciptakan teknologi yang tidak hanya mampu mengatasi masalah yang ada di masyarakat tetapi juga mampu mencegah agar masalah tersebut jangan sampai terjadi.

Namun sering kali ilmuwan terlalu berlebihan dalam memprediksi kegunaan suatu teknologi yang dapat menyebabkan teknologi dalam jangka waktu tertentu diaplikasikan jauh dari kegunaan teknisnya dalam perkembangan dan industri. Misalnya saja pada penemuan energi nuklir yang mulanya hanya untuk mencari energi alternative pengganti barang tambang, ketika ilmuwan memprediksi bahwa teknologi nuklir dapat dipakai sebagai senjata pertahanan Negara, maka meletuslah perang dingin dengan Uni Soviet dimana teknologi nuklir berperan sebagai tombak di belakang konfrontasi antara 2 negara tersebut.

Dalam melihat hal ini, ilmuwan sudah sepantasnya sadar dan bekerja dengan lebih menekankan aspek humanis. Riset dan kontrol dari pemerintah juga sangat diperlukan sehingga mereka dapat mengontrol para ilmuwan untuk menciptakan teknologi yang dapat lebih maju sesuai dengan kegunaannya dalam aplikasi masyarakat sehari-hari tanpa melenceng jauh dan memberikan dampak yang berbahaya bagi kehidupan manusia.



Sumber :

Pacey, Arnold. The Culture of Technology. Cambridge: MIT Press, 1983, 1-54
Last Updated ( Monday, 17 September 2007 )

Mengutip dari : Written by Riska Yuniar Rahmawati Nabhani

Transportasi informasi melalui kabel serat optik

Kabel Fiber Optik (Serat Optik)
Kabel Serat OptikMedia komunikasi digital pada dasarnya hanya ada tiga, tembaga, udara dan kaca. Tembaga kita kenal sebagai media komunikasi sejak lama, telah berevolusi dari hanya penghantar listrik menjadi penghantar elektromagnetik yang membawa pesan, suara, gambar dan data digital. Berkembangnya teknologi frekuensi radio menambah alternatif lain media komunikasi, kita sebut nirkabel atau wireless, sebuah komunikasi dengan udara sebagai penghantar. Tahun 1980-an kita mulai mengenal media komunikasi yang lain yang sekarang menjadi tulang punggung komunikasi dunia, yaitu serat optik, sebuah media yang memanfaatkan pulsa cahaya dalam sebuah ruang kaca berbentuk kabel, total internal reflection.
Sebuah kabel serat optik dibuat sekecil-kecilnya (mikroskopis) agar tak mudah patah/retak, tentunya dengan perlindungan khusus sehingga besaran wujud kabel akhirnya tetap mudah dipasang. Satu kabel serat optik disebut sebagai core. Untuk satu sambungan/link komunikasi serat optik dibutuhkan dua core, satu sebagai transmitter dan satu lagi sebagai receiver. Variasi kabel yang dijual sangat beragam sesuai kebutuhan, ada kabel 4 core, 6 core, 8 core, 12 core, 16 core, 24 core, 36 core hingga 48 core. Satu core serat optik yang terlihat oleh mata kita adalah masih berupa lapisan pelindungnya (coated), sedangkan kacanya sendiri yang menjadi inti transmisi data berukuran mikroskopis, tak terlihat oleh mata.

Detil core kabel serat optik
Bentuk kabel dikenal dua macam, kabel udara (KU) dan kabel tanah (KT). Kabel udara diperkuat oleh kabel baja untuk keperluan penarikan kabel di atas tiang. Baik KU maupun KT pada lapisan intinya paling tengah diperkuat oleh kabel khusus untuk menahan kabel tidak mudah bengkok (biasanya serat plastik yang keras). Di sekeliling inti tersebut dipasang beberapa selubung yang isinya adalah core serat optik, dilapisi gel (katanya berfungsi juga sebagai racun tikus) dan serat nilon, dibungkus lagi dengan bahan metal tipis hingga ke lapisan terluar kabel berupa plastik tebal. Dari berbagai jenis jumlah core, besaran wujud akhir kabel tidaklah terlalu signifikan ukuran diameternya.
Memotong kabel serat optik sangat mudah, cukup menggunakan gergaji kecil. Sering terjadi maling-maling tembaga salah mencuri, niatnya mencuri kabel tembaga yang laku di pasar besi/loak malah menggergaji kabel serat optik. Yang sulit adalah mengupasnya, namun hal ini dipermudah dengan pabrikan kabel menyertakan serat nilon khusus di bawah lapisan terluar yang keras sehingga cukup dikupas sedikit dan nilon tersebut berfungsi membelah lapisan terluar hingga panjang yang diinginkan untuk dikupas.
Untuk apa dikupas? Tentunya untuk keperluan penyambungan atau terminasi. Kita lihat dulu bagaimana pulsa cahaya bekerja di dalam serat kaca yang sangat sempit ini. Kabel serat optik yang paling umum dikenal dua macam, multi-mode dan single-mode. Transmitter cahaya berupa Light Emitting Diode (LED) atau Injection Laser Diode (ILD) menembakkan pulsa cahaya ke dalam kabel serat optik. Dalam kabel multi-mode pulsa cahaya selain lurus searah panjang kabel juga berpantulan ke dinding core hingga sampai ke tujuan, sisi receiver. Pada kabel single-mode pulsa cahaya ditembakkan hanya lurus searah panjang kabel. Kabel single-mode memberi kelebihan kapasitas bandwidth dan jarak yang lebih tinggi, hingga puluhan kilometer dengan skala bandwidth gigabit.

Pulsa cahaya serat optik multi-modePulsa cahaya serat optik single-mode

Inti kaca kabel single-mode umumnya berdiameter 8,3-10 mikron (jauh lebih kecil dari diameter rambut), dan pada multi-mode berukuran 50-100 mikron. Pulsa cahaya yang ditembakkan pada single mode adalah cahaya dengan panjang gelombang 1310-1550nm, sedangkan pada multi-mode adalah 850-1300nm.

OTB wallmount
OTB rackmount

Ujung kabel serat optik berakhir di sebuah terminasi, untuk hal tersebut dibutuhkan penyambungan kabel serat optik dengan pigtail serat optik di Optical Termination Board (OTB), bisa wallmount atau 1U rackmount. Dari OTB kabel serat optik tinggal disambung dengan patchcord serat optik ke perangkat multiplexer, switch atau bridge (converter to ethernet UTP).

Penyambungan kabel serat optik disebut sebagai splicing. Splicing menggunakan alat khusus yang memadukan dua ujung kabel seukuran rambut secara presisi, dibakar pada suhu tertentu sehingga kaca meleleh tersambung tanpa bagian coated-nya ikut meleleh. Setelah tersambung, bagian sambungan ditutup dengan selubung yang dipanaskan. Alat ini mudah dioperasikan, namun sangat mahal harganya. Inilah sebabnya meskipun harga kabel fiber optik sudah jauh lebih murah namun alat dan biaya lainnya masih mahal, terutama pada biaya pemasangan kabel, splicing dan terminasinya.

Berbagai jenis konektor kabel serat optik

Pigtail yang disambungkan ke kabel optik bisa bermacam-macam konektornya, yang paling umum adalah konektor FC. Dari konektor FC di OTB ini kita tinggal menggunakan patchcord yang sesuai untuk disambungkan ke perangkat. Umumnya perangkat optik seperti switch atau bridge menggunakan konektor SC atau LC. Cukup menyulitkan ketika menyebut jenis konektor yang kita kehendaki kepada penjual, FC, SC, ST, atau LC.

Setelah kabel optik terpasang di OTB dilakukan pengujian end-to-end dengan menggunakan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). Dengan OTDR akan didapatkan kualitas kabel, seberapa besar loss cahaya dan berapa panjang kabel totalnya. Harga perangkat OTDR ini sangat mahal, meskipun pengoperasiannya relatif mudah. OTDR ini digunakan pula pada saat terjadi gangguan putusnya kabel laut atau terestrial antar kota, sehingga bisa ditentukan di titik mana kabel harus diperbaiki dan disambung kembali.

Ada 2 tipe design kabel serat optik :

1. Loose-tube construction (buat instalasi di luar ruangan)
2. Tight buffer construction (buat di dalam gedung)

Kelebihan kabel fiber optic yaitu tidak ada interfensi ke kabel fiber lain. Gak ada gannguan crosstalk seperti pada copper media. Tapi bukan berarti media ini sempuran atau tidak ada gangguannya, kalau instalasinya tidak bener maka akan menimbulkan :

1. Scattering
2. Microbend, Macrobend

Untuk keperluan sederhana misalnya sambungan fiber optik antar gedung pada jarak ratusan meter (hingga 15km) kini teknologi bridge/converter-nya sudah semakin murah dengan kapasitas 100Mbps, sedangkan untuk full gigabit harga switch/module-switch-nya masih mahal. Jadi, meskipun harga kabel serat optik sudah di kisaran Rp10.000/m namun total pemasangannya membengkak karena ada biaya SDM yang menarik dan memasang kabel, biaya splicing setiap core-nya, pemasangan OTB, pengujian OTDR, penyediaan patchcord dan perangkat optiknya sendiri (switch/bridge).

Sumber : http://yulian.firdaus.or.id

Internet dan Website

Internet ke Interkoloni

Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.
Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.
Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.
Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.
Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini.
Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)
Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.
Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."
Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.
Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)


Sumber : http://www.harunyahya.com

ARTIKEL PERTEKOM

Perkembangan Teknologi Komunikasi


Penggunaan tekn0logi komunikasi saat ini bisa dikatakan sbagai kbutuhan bagian dari gaya hdup.Penggunaan tkn0lngi komunikasi sprti hp&imtrnet tdak trbatas lagi pd profesional semata,tetapi telah mencakup ke berbagai bidang-bidang lain.Teknologi komunikasi saat ini juga tidak hanya trbatas pada usia dan kalangan trtentu,tetapi smua usia,sprti usia skolah.Tingkat partisipasif dan amtusiasme masyarakat pd tkn0logi komunikasi yg ada saat ini mulai menunjukkan kesadaran akan pnggunaan teknol0gi komunikasi.Dimana masyarakat menggunakan tekn0logi komunikasi utk mendapatkan ssuatu yg brhubungan dgn k0munikasinya.Shingga bs dikatakan dgn adanya kmjuan teknologi komunikasi,masyarakat bs mendapatkan inf0rmasi scara cpat dan mudah dgn tekn0l0gi sbg medianya.
Pnggunaan tekn0l0gi k0munikasi saat ini hmpir digunakan disemua aspek.Kita bs ambl c0nt0h sk0lah-sk0lah yg kini telah memberlakukan mata pelajaran tekn0l0gi inf0rmasi sbg mata pelajaran yg wajib diikuti oleh para siswa.Slain itu,masyarakat yg btuh akan inf0rmasi,bisa mengakses langsung melalui fasilitas internet,karena di internet pun memiliki jutaan bahkan milyaran informasi
Dari semua itu bisa kita simpulkan bahwa penggunaan teknologi komunikasi telah menjadi bagian budaya dari masyarakat kita,sehingga terbentuklah budaya kesadaran akan teknologi komunikasi itu,kita pun tidak bisa menutup mata akan adanya kemajuan teknologi komunikasi itu,kitapun tidak bs mnutup mata akan adanya dampak p0sitif maupun negatif.dampak p0sitifny sndiri bs kita rasakan,dimana kita mendapatkn ssuatu inf0rmasi scara instan.